BMKG Maksimalkan Peringatan Dini Bencana di YIA

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meninjau kesiapan deteksi dini bencana alam di Yogyakarta International Airport, Senin (10/2/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
11 Februari 2020 01:27 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BKMG) sedang memaksimalkan sistem peringatan dini bencana di Yogyakarta International Airport (YIA). Meski sebelumnya sistem ini sudah ada, tetapi ancaman gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem di bandara baru Kulonprogo ini perlu diantisipasi dengan lebih maksimal.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam kunjungannya ke YIA untuk meninjau kesiapan deteksi dini kebencanaan pada Senin (10/2/2020) memastikan semua sistem peringatan dini bencana di bandara ini akan ditingkatkan resolusi, akurasi, dan presisinya sebelum bandara beroperasi secara penuh pada 29 Maret mendatang.

"Sejak desain awal YIA, BMKG sudah terlibat dalam hal pengukuran, terutama dalam memperhitungkan ancaman gempa bumi dan tsunami. Setelah desain ini jadi, BMKG perlu memasang sistem monitoring dan peringatan dini tsunami, agar keamanan bandara ini benar-benar dapat terpantau dan termitigasi," kata dia, Senin.

Dwikorita memastikan sensor bencana di bandara baru ini sudah terpasang pada titik yang tepat. "Tadi kita meninjau titiknya di mana, pada lantai yang mana, dinding yang mana alat itu harus terpasang. Sehingga transparan, semua bisa melihat kalau ada gempa bisa terbaca di sistem," terangnya.

Dikatakannya, alat monitoring ini sudah terpasang selama proses pembangunan YIA, akan tetapi kini tingkat akurasi, resolusi, dan presisinya akan ditingkatkan. Hal itu perlu dilakukan karena menurutnya bencana alam di YIA perlu dipercepat deteksinya menjadi kurang dari lima menit.

"Caranya dengan menambah alat, antara lain intensity meter, accelerometer, seismograf, dan quick early warning system. Diharap dengan adanya tambahan itu kecepatan peringatan dini bisa lebih cepat dan tajam," kata mantan Rektor UGM ini.

Sistem sensor bencana ini terletak di sebuah bangunan yang sudah didesain mampu bertahan meskipun diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,8 SR. Meski terbilang aman, ia tak memungkiri jika sistem itu bisa saja rusak. Untuk itu, sistem ini telah dilengkapi pencadangan di dua titik.

"Kami harus punya backup server, ada di Kemayoran, Jakarta. Kalau ada apa-apa di Kemayoran, ada backup lagi diambil dari Bali. Lapis-lapis backup itu disebut contingency plan," tuturnya.

Selain sistem monitoring gempa bumi dan tsunami, BMKG juga menyiapkan peralatan untuk mendeteksi abu vulkanik. Meskipun jarak YIA dengan Gunung Merapi terbilang jauh, namun sebaran abu vulkanik tetap berpotensi sampai di YIA dan membahayakan mesin pesawat.

Perubahan arah angin yang tiba-tiba juga akan diantisipasi BMKG lewat sistem wind shear. Potensi bencana lain yang diantisipasi yaitu gelombang Samudera Hindia yang tergolong tinggi dan adanya kilat yang dapat membahayakan penerbangan.

Menurutnya, kelengkapan sensor bencana di YIA terbilang paling lengkap, setara dengan Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Meski begitu, efektivitas sistem ini masih akan disimulasi dengan melibatkan BPBD setempat. "Peringatan dini kan tidak harus dengan sirine. Ini yang baru kita simulasi. Kalau dengan sirine itu apa masyarakat tambah bingung atau tidak, itu masih jadi bahan diskusi kami, mana yang terbaik dan kita simulasikan," terangnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas menambahkan, bulan Januari-Februari 2020 merupakan puncak musim hujan di wilayah DIY-Jateng. Pihaknya telah memberikan peringatan dini cuaca ekstrem agar BPBD dan OPD terkait bisa melakukan antisipasi dini.

"Di Jogja sudah ada radar cuaca, kami juga sudah ada data zona-zona dan itu kami koordinasikan dengan BPBD setempat, termasuk titik-titik rawan longsor. Kalau bandara ini aman dari longsor karena berada di wilayah datar," katanya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meninjau kesiapan deteksi dini bencana alam di Yogyakarta International Airport, Senin (10/2).