Ada Trayek Baru Menuju YIA, Ini Daftarnya

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau perkembangan Yogyakarta International Airport pada Sabtu (28/12/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
12 Januari 2020 05:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perhubungan DIY menyiapkan trayek baru angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) menuju ke Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo. Trayek yang disahkan melalui SK Gubernur DIY itu diharapkan memancing minat swasta untuk menggarap layanan AKDP menuju ke YIA.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY Sumaryoto menjelaskan penerbitan SK Gubernur DIY tentang penambahan trayek AKDP sebagai respons beroperasinya penerbangan di YIA.

Adapun trayek baru menuju YIA tersebut secara umum berangkat dari wilayah timur DIY menuju ke kawasan YIA. Antara lain trayek dari Pakem – Tempel – Nanggulan – Sentolo – YIA, trayek Jombor - Gamping – Wates – YIA, trayek Malioboro – Tugu – Ngabean – Wates – YIA dan trayek Palbapang (Bantul) – Srandakan – YIA.

“Mengingat keberadaan bandara [YIA] yang akan beroperasi penuh, maka kita harus cepat merepons itu, sehingga diterbitkan SK Gubernur DIY tentang AKDP, kalau peraturan menteri yang dulu kan ada angkutan pemandu moda dari bandara ke suatu wilayah tujuan. Saat ini dengan Permenhub yang baru sudah tidak ada lagi pemandu moda, adanya AKDP. Maka kami terbitkan SK Gubernur trayek AKDP untuk mewadahi akses menuju bandara,” terangnya kepada Harianjogja.com, Selasa (7/1/2020) lalu.

Ia menambahkan untuk saat ini di luar trayek baru tersebut sudah ada layanan angkutan dalam trayek menggunakan Bus Damri namun masih sangat terbatas dengan jumlah 12 unit untuk melayani dari wilayah perkotaan Jogja ke YIA. Padahal seiring belum beroperasinya kereta bandara langsung ke YIA, sehingga AKDP yang terakses langsung ke YIA sangat dibutuhkan. Mendesaknya keberadaan layanan angkutan ini karena karakteristik YIA yang sangat berbeda dengan Adisutjipto. YIA tidak bisa diakses secara langsung oleh angkutan apapun, di sisi lain berbeda dengan Adisutjipto yang langsung berada di pinggir jalan besar dengan beragam model angkutan.

“Kalau sekarang baru dilayani oleh Damri yang dalam trayek, itu pun sangat terbatas sebanyak 12 unit, dari YIA ke Jogja. Ini baru sebagian beroperasi [YIA], kalau semua penerbangan sudah dipindahkan [ke YIA] tentu butuh banyak. Kalau di Adisutjipto orang jalan kaki bisa sampai jalan raya lalu ada AKAP, ADKP Trans Jogja, prameks, di sana [YIA] praktis nanti belum ada kereta, tidak ada Trans Jogja,” ucapnya.

Saat ini, lanjutnya, layanan angkutan yang sudah tersedia adalah angkutan tidak dalam trayek yang sudah dilelang oleh pihak pengelola YIA. Hanya saja tarifnya tergolong mahal kisaran Rp250.000 sekali perjalanan, berbeda dengan angkutan dalam trayek yang sudah dilayani oleh Damri hanya Rp50.000 dari Kota Jogja ke YIA.

Sumaryoto berharap dengan dibukanya trayek baru tersebut bisa direspons oleh swasta untuk melihat potensi bisnis angkutan umum menuju YIA bisa digarap. Tetapi jika tidak ada pihak swasta yang tertarik untuk membuka jalur dalam trayek menuju YIA, maka Pemda DIY akan melakukan kajian lebih lanjut dalam upaya membuka layanan angkutan.

“Kalau tidak ada kami akan lakukan kajian lebih lanjut, moda apa yang harus melayani di rute tersebut, baik desain bus, kapasitas berapa, kemudian frekuensi waktunya berapa, semua tergantung pada animo masyarakat dan tidak lepas juga dengan jadwal penerbangan,” ucapnya.