Begini Perjuangan Komunitas Rental Motor Indonesia Mengejar Motor Curian

Ketua Umum Komunitas Rental Motor Indonesia (RMI), Yanuar Gajaksahda. - Detikcom/Pradito Rida Pertana
16 Februari 2020 13:47 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kerap ada pencurian motor dengan modus menyewa motor terlebih dulu. Komunitas Rental Motor Indonesia (RMI) pun menceritakan perjuangannya mengejar para pelanggan yang membawa kabur motor sewaannya.

Ketua Umum Komunitas RMI, Yanuar Gajaksahda, 39, menyebut aksi pengejaran paling rumit terjadi di Bogor dan pengejaran yang paling berisiko saat mengambil kembali motor dari Madura.

"Kalau paling jauh buat saya itu pas ambil motor sampai ke Bogor, itu sekitar tahun 2011-2012 kalau tidak salah," ucapnya saat ditemui detikcom di kantor Transmojo, Kelurahan Muja Muju, Kecamatan Umbulharjo, Kota Jogja, Sabtu (15/2/2020).

Selain jauh, Yanuar mengaku proses pencarian terhadap tersangka penggelapan motornya cukup memakan waktu. Hal itu karena kartu identitas yang menjadi jaminan menyewa motor palsu dan yang bersangkutan tinggal berpindah-pindah.

"Paling sulit yang di Bogor, karena identitas [pelaku] palsu dan di sini [Jogja] dia hanya ngontrak. Akhirnya kita bongkar kontrakannya, ketemulah nomor telepon di situ terus kita hubungi. Ternyata nomor itu nomornya teman pelaku," ucapnya.

Agar buruannya tidak lolos, Yanuar menyiasatinya dengan menghubungi nomor tersebut melalui bantuan istrinya. Benar saja, cara itu ternyata berhasil untuk mengorek informasi dari teman pelaku. "Saat itu dipancing dengan istri saya yang telepon, karena kalau cewek biasanya kan respons. Setelah komunikasi itu dia mengajak ketemuan di di Mangga 2, Jakarta dan saya langsung berangkat ke sana [Jakarta]," ujarnya.

"Setelah itu kita tanyai dia, dan kita suruh tunjukin di mana rumahnya. Ternyata si pelaku ini sudah pindah dan setelah ditelusuri sampai di kosan, di kosan kita tanya-tanya dan ternyata motor saya ada di Bogor. Langsung saat itu juga kita ke Bogor dan motornya bisa ditarik lagi," lanjut Yanuar.

Menyoal pengejaran yang berisiko, Yanuar mengaku terjadi saat melalukan pengejaran hingga ke Madura. Meski diakuinya motor yang dilarikan penyewa bukan miliknya.

"Madura juga pernah tapi tim, saya tidak ikut. Jadi pernah ada motor yang dilarikan ke Jawa Timur, terus kontak teman sana ternyata lepas dan sudah sampai ke Madura," katanya.

Mendapat informasi tersebut, rekan-rekannya langsung melakukan pengejaran ke Madura. Sesampainya di Madura, tim yang berisi anggota RMI langsung melakukan pendekatan terhadap warga di kampung yang menjadi lokasi keberadaan motor rental anggotanya.

"Sampai lokasi kita sosialisasi dulu, di Madura tidak bisa langsung, apalagi kita masuk wilayah lain. Apalagi orang sana [Madura] bilang kalau ambil motor di sana [kampung yang menjadi lokasi keberadaan motor rental] bisa pulang tanpa nyawa," katanya.

Meski berisiko tinggi, rekan-rekannya tetap melakukan pendekatan dan menunggu yang bersangkutan keluar dari rumahnya menggunakan motor rental milik anggota RMI. Dia meyakini jika pengejaran itu dilandasi dengan niat baik maka akan mendapatkan kemudahan dari Tuhan.

"Seperti tim penyelidik itu kita, memang tidak seberapa motornya tapi pertaruhan kita nyawa. Ya, yang penting niatnya baik, artinya ketika motor digadaikan biasanya Rp2 juta sampai Rp3 juta terpaksanya kita tebus tidak masalah," katanya.

"Karena pengalaman saya dalam hal mengambil motor, yang penting kita punya niatan baik dan negoisasi, pun kalau keras nanti kita tebus dan mereka nanti akan melepasnya. Kecuali satu kampung pemain semua, itu kita harus cari orang luar yang punya kedekatan khusus dengan mereka baru bisa," sambung Yanuar.

Setelah penantian itu, akhirnya pelaku keluar dari kediamannya, dan tim mengikuti untuk selanjutnya melakukan negoisasi. Menurutnya, negoisasi saat itu berlangsung lancar meski motor rental harus disembunyikan di Polsek setempat.

"Jadi kita menunggu yang pakai motor keluar dan setelah keluar kita datangi yang bersangkutan. Setelah dapat motor itu kita tidak disembunyikan di Polsek, katanya masih bisa dibakar sama masyarakat [kalau di Polsek]. Karena itu kita umpetin [motornya] di Polsek dan teman-teman tidur di kota biar aman," katanya.

Menyoal nasib pelaku, Yanuar mengaku kebanyakan pelaku dilepaskan kembali oleh RMI. Karena jika dibawa ke polisi, motor mereka akan tertahan jadi barang bukti dan tidak mendapat pemasukan dari rental motor.

"Karena kalau dikasuskan ke polisi motor jadi barang bukti dan sulit biar bisa dipinjamkan, terus usaha kita nanti gimana, kan bisa rugi lebih banyak. Jadi dari pada kehilangan motor lagi ya mending dilepaskan saja," pungkas Yanuar.

Sumber : Detik.com