Kisah Perias Jenazah: Sukamto Ada di Kala Duka

Sukamto duduk di depan tempat penyimpanan abu jenazah di Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ), Jumat (7/2/2020). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
17 Februari 2020 07:07 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Menjadi perias jenazah tidak semua orang mau menjalaninya. Inilah kisah perias jenzah di Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ).

Kami Ada di Kala Duka, sebuah tulisan berwarna putih menempel di dada kaus berwarna ungu yang dikenakan seorang pria yang sehari-hari bekerja di Perkumpulan Urusan Kematian Jogjakarta (PUKJ) Jogja. Tulisan itu bukannya tanpa makna bagi pria yang mengenakannya.

Bagi Sukamto, 65, tulisan itu adalah cerminan kesehariaannya. Betapa tidak sudah 30 tahun dia bekerja sebagai pengurus jenazah di PUKJ, Jogja. Berbagai kondisi orang meninggal pernah ia tangani. Melakukan rias wajah jenazah menjadi salah satu hal yang dikerjakan olehnya.

Hampir separuh hidup Sukamto dihabiskan untuk mengabdi, membantu keluarga orang yang meninggal.

Usianya tidak lagi muda, tetapi semangat Sukamto masih membara. Ketika tidak ada kabar duka, Sukamto lebih banyak menghabiskan waktunya merapikan peti-peti jenazah di PUKJ. Dengan tenaga yang ia miliki, ia menarik, merapikan peti di sebuah ruangan penyimpanan peti dengan berbagai ukuran.

Di bagian belakang ruangan, tempat terbuka dengan atap tertutup, tampak satu peti jenazah telah berada di tengahnya. Setelah menata peti, Sukamto melanjutkan mengecat peti yang ada di luar ruangan tersebut, dengan cat semprot ia mulai mengarahkan dengan telaten alat semprotnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu kesibukan, Sukamto ketika berada di PUKJ, selain membersihkan sejumlah ruangan di Rumah Abu.

Suka duka pernah dijalani Sukamto. Dia berkisah berbagai kondisi jenazah pernah ia tangani. Mulai dari orang yang meninggal dengan wajar atau orang yang meninggal dengan cara bunuh diri, atau kecelakaan.

Rasa takut memang sempat menghantuinya. Namun, ketakutan itu hanya terjadi di awal saat ia memutuskan bekerja sebagai pengurus jenazah. Sukamto memutuskan menjadi pengurus jenazah terdorong oleh kakaknya yang dulu juga sebagai perawat jenazah.

“Awalnya memang takut mau megang, tetapi kalau sekarang sudah biasa. Kondisi apapun pernah saya tangani. Saya takut itu malah kalau keluar malam mancing. Padahal sering mengurus orang meninggal,” ucap Sukamto, Jumat (7/2/2020).

Tak lama kemudian, Sukamto dengan jalannya yang sedikit menyeret kaki, beranjak dari tempatnya mengecat peti jenazah. Mengendarai sepeda motornya, halaman tengah di PUKJ yang cukup luas ia lewati. Melanjutkan berjalan kaki beberapa langkah, sebuah ruangan ia tunjukan.

Ruangan itu tidak begitu luas, sekitar lima kali delapan meter. Dua tempat yang telah dibentuk dengan lapisan keramik untuk memandikan jenazah berjejer. Sembari berdiri, di antara keduanya Sukamto menjelaskan bagaimana prosesi ketika ia harus mengurus jenazah.

“Nanti dimandikan di sini [sembari menunjuk tempat untuk memandikan], kalau jenazah orang Tionghoa kadang dibasuh pakai arak putih. Kalau yang Nasrani atau Islam biasanya air biasa,” ujarnya.

Tidak butuh waktu lama, menurutnya, untuk mengurusi jenazah. Setelah selesai memandikan jenazah, untuk Nasrani maupun Konghucu ia kenakan pakaian. Setelan jas menjadi pilihan yang paling sering dikenakan. Namun, tidak jarang pula pakaian favorit dari jenazah yang dikenakan. “Semua mengikuti permintaan keluarga pada dasarnya. Misal ada juga yang minta jenggot atau kumis jenazah dirapikan, ya kami ikuti itu. Ada yang minta dikenakan pakaian favorit orang yang meninggal, karena dulu jadi pakaian favorit ya kami ikuti,” ucapnya.

Seusai mengenakan pakaian pada jenazah, tidak lupa rias pada wajah jenazah pun diberikan. Tidak terlalu tebal, tiga warna bedak untuk wajah biasanya menjadi pilihannya, kemerahan, kuning, atau putih. Pilihan warna pun menyesuaikan kondisi wajah dari jenazah.

Sedikit berbeda dengan jenazah yang dikubur. Sejumlah jenazah warga keturunan Tionghoa, ada yang diberlakukan sedikit berbeda. Seusai dimandikan dan diberi pakaian serta dirias, pemilihan peti tidak sembarangan. “Dua koin begitu dilemparkan di depan petinya, harus berbeda keduanya. Kalau sama, nanti cari peti lain dilemparkan lagi koinnya. Jam waktu menutup peti, kemudian dimasukkan ke liang kuburnya kalau dikubur itu ada hitungan mereka tersendiri,” katanya.

Selain sebagai tempat duka, juga terdapat Rumah Abu PUKJ yang terletak di bagian belakang gedung. Ruangan dengan luas sekitar 12 x 5 meter disediakan untuk menata abu-abu dari jenazah. Pemisahan dengan sekat kotak-kotak kecil kisaran 20cm x 30cm memisahkan setiap abu yang ditaruh dalam tempat tertentu oleh keluarga. Tidak hanya di dalam ruangan, di bagian depan ruangan dengan atap tertutup sejumlah abu di dalam sebuah tempat juga ditata.

Tulisan nama jenazah, tempat tanggal lahir, tanggal meninggal, keluarga duka tertulis jelas di kaca-kaca depan penutup setiap abu yang tersimpan. Tidak jarang barang kesukaan jenazah, atau replika hal yang digemari berada di dalam kotak-kotak yang memisahkan setiap abu jenazah yang tersimpan.

 

//Utamakan Pelayanan

Penanggung Jawab Harian di PUKJ, Wono Wibowo mengatakan hal yang coba dijaga di PUKJ adalah kepercayaan orang terhadap pelayanan yang diberikan PUKJ. Dikatakannya pelayanan yang diberikan selama ini pada lintas agama, dan lintas warga negara. Tidak hanya masyarakat lokal Jogja, warga asing pun kerap ditangani PUKJ.

Kepercayaan itu yang coba dipegang, menurutnya tidak mudah dan perlu proses adminstrasi yang cukup panjang, ketika mengurus warga negara asing yang meninggal. “Urusannya kan sama negara lain juga, jadi ada izin gubernur dan lain-lain, tetapi sejauh ini kami masih dipercaya untuk mengurusi itu,” ucap Wono.

Orang-orang yang bekerja di PUKJ pun dinilainya sangat loyal dan berdedikasi. Belasan bahkan puluhan tahun para pekerja di PUKJ telah mendedikasikan dirinya, untuk membantu di kala ada duka. Wono mengatakan pelayanan yang diberikan memang lengkap. “Untuk yang rias itu kan, ya seperti layaknya orang masih hidup lah diberlakukannya, biar gagah dikenakan jas pakaian,” ucapnya.

Ketua I Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto mengatakan pemakaman warga keturunan Tionghoa, sebenarnya tidak jauh berbeda dengann masyarakat lainnya. Namun ada sejumlah hal yang biasanya membedakan sesuai kepercayaan yang dianut.

Jasad orang Tionghoa yang beragam Buddha atau Nasrani yang meninggal biasanya ada yang dikubur, tetapi ada juga yang dibakar atau dikremasi.  Untuk jasad yang dikremasi pun ada yang disimpan abunya dan ada yang dilarung ke laut.

Sebelum proses penguburan, atau kremasi, biasanya juga dilakukan rias pada orang yang telah meninggal tersebut. “Sesuai agama lain, manusia setelah meninggal ada kehidupan lagi. Sehingga dirias wajahnya selayaknya orang yang masih hidup, ada yang diberikan bekal hal yang disukai, atau permintaan sebelum meninggal,” kata Jimmy.