Ada Potensi Bencana, Masyarakat Harus Tanggap dengan Merapi

Visual puncak Gunung Merapi dari pos Pengamatan Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Minggu (3/3) pagi. - Twitter/BPPTKG DIY
17 Februari 2020 19:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemkab kembali mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai aktivitas Gunung Merapi. Pemkab berharap masyarakat di lereng Merapi meningkatkan literasi kebencanaan untuk menekan risiko jatuhnya korban jika terjadi erupsi terjadi.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengatakan meskipun bencana tidak bisa dihindari namun jatuhnya korban jiwa tetap bisa diantisipasi. Pemkab terus memberikan koperasi kebencanaan kepada masyarakat, khususnya lokasi-lokasi yang memiliki potensi bencana. Seperti erupsi Merapi, longsor dan Angin kencang.

"Ada dua implikasi ancaman terkait kondisi Merapi saat ini. Meliputi ancaman jangka pendek dan ancaman jangka panjang. Kedua implikasi ini kami terus antisipasi," katanya saat pengukuhan SMPN 2 Pakem sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Senin (17/2/2020).

Dia mengatakan, ada ancaman jangka pendek yang harus dihadapi dan harus diantisipasi. Jika kubah lava yang terus tumbuh kemudian mencapai volume kritis, maka dampak yang ditimbulkan mulai munculnya awan panas (wedhus gembel) hingga longsornya material erupsi Merapi. "Antisipasinya, salah satunya kami lakukan sosialisasi kepada warga di wilayah paling rentan terkait kondisi terkini Gunung Merapi. Termasuk memberikan simulasi peringatan dini," katanya.

Adapun mitigasi jangka panjang, lanjut Muslimatun, dapat dilakukan dengan menegakkan peraturan terkait tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana. Masalah ini, katanya, sudah diatur dalam UU salah satunya terkait Kawasan Rawan Bencana (KRB) di Merapi. "Penegakan aturan ini telah diamanatkan oleh Undang-undang," jelasnya.

Pemkab sendiri, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman terus melakukan monitoring dan pemeliharaan terhadap 37 Early Warning System yang ada di lokasi-lokasi rawan bencana. Baik EWS awan panas dan banjir lahar di Kawasan Gunungapi Merapi, EWS tanah longsor di Kecamatan Prambanan, serta CCTV yang terpasang di beberapa titik kumpul maupun barak pengungsi.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto mengatakan SMPN 2 Pakem merupakan sekolah SPAB terakhir atau SPAB ke 72 yang dibentuk tahun ini. Dia berharap pembentukan SPAB memberikan pengetahuan dan ketrampilan warga sekolah untuk melakukan mitigasi bencana jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

"Sleman kita tahu memiliki tujuh potensi ancaman kebencanaan. Mulai dari erupsi gunung Merapi, longsor, banjir, angin dan lainnya. Maka sewajarnya masyarakat harus memiliki kemampuan yang baik untuk mitigasi bencana," terangnya.