CICI JOGJA 2020 : Ingin Memberikan Hal Positif & Melestarikan Budaya Tionghoa

Cici Jogja 2020, Catherine Presilia Gunawan/ Ist. - dok. pribadi
20 Februari 2020 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Cici Jogja 2020, Catherine Presilia Gunawan, atau yang kerap disapa Catherine ingin memberikan hal-hal yang positif lewat kehidupan baik dalam tindakan dan perilakunya yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. 

“Saya ingin memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat Jogja, dengan cara bersama-sama dengan keluarga Koko Cici Jogja melakukan program kerja yang dapat diikuti dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Jogja,” kata Catherine, Rabu (19/2).

Perempuan yang tengah menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tersebut menceritakan awal ia mengikuti Koko Cici Jogja karena, ingin belajar lebih dalam lagi budaya Tionghoa dan ingin berkontribusi dalam pelestarian budaya Tionghoa itu sendiri bersama dengan Koko Cici Jogja. Selain juga ajakan-ajakan dari teman, sahabat, dan keluarga untuk mencoba mengikuti pemilihan Koko Cici Jogja 2020 untuk mencari pengalaman baru dan menambah relasi pertemanan.

Catherine mengatakan selama berproses dalam pemilihan Koko Cici Jogja 2020 tidak lepas dari suka dan duka. Namun, dibalik itu semua banyak pelajaran yang ia dapatkan, belajar jadi pribadi yang lebih baik setiap harinya, belajar untuk mencintai diri sendiri dan memiliki kepercayaan diri, belajar sebuah arti kekeluargaan yang mana Koko Cici Jogja bukan merupakan organisasi tetapi keluarga, belajar bertindak dengan tepat, belajar problem solving dan banyak sekali pelajaran-pelajaran yang ia dapatkan.

“Mungkin kalau saya tidak mengikuti pemilihan Koko Cici Jogja 2020 saya tidak bisa mendapatkan pelajaran-pelajaran tersebut yang tentunya membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik,” ucap perempuan yang memiliki hobi menari itu.

Ia juga mengatakan dalam menghadapi segala kegiatan, selalu berdoa dan menyerahkan segala kegiatan yang Tuhan percayakan kepadanya. “Porsi saya adalah melakukan yang terbaik dengan segala kemampuan saya, selebihnya biarlah sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak lupa juga dalam pemilihan Koko Cici Jogja 2020 saya berusaha dengan keras untuk mempelajari budaya-budaya Tionghoa, mempersiapkan semua materi-materi yang berkaitan dengan budaya Tionghoa dan Jogja,” ucapnya.

 

Menghargai Budaya Lain

Perempuan kelahiran Bandar Lampung 19 tahun silam itu mengatakan Koko Cici Jogja banyak bersinggungan dengan pelestiran budaya Tionghoa. Pelestarian budaya Tionghoa tersebut salah satunya diwujudkan dalam acara perayaan hari-hari besar. Antusias masyarakat dari tahun ke tahun sangat besar dalam mengikuti perayaan-perayaan ini.

Ia mengatakan perayaan-perayaan hari besar tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras para muda-mudi di Jogja yang berkontribusi secara nyata dalam pelestarian budaya Tionghoa. Saat ini peranan muda-mudi terus ditingkatkan dan tentunya Koko Cici Jogja juga bekerja sama dengan Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) dalam melestarikan dan melaksanakan berbagai macam kegiatan. Tidak hanya itu saja Koko Cici Jogja sangat terbuka dan mengundang para muda-mudi untuk bersama-sama ikut maju, berperan dan melakukan aksi nyata dalam pelestarian dan pengembangan budaya Tionghoa.

Tidak hanya mendukung pelestarian budaya Tionghoa. Ia juga mencoba selalu menghargai keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. “Saya pribadi mengambil sikap untuk saling menghargai budaya satu sama lain, selain budaya Tionghoa. Dengan berbagai isu mengenai budaya saya bersikap untuk tidak mudah terbawa arus informasi yang berusaha memecah belah kesatuan Indonesia. Dengan beragam budaya yang ada kita bisa saling berkolaborasi untuk menjaga kesatuan Indonesia bahkan melakukan hal-hal besar untuk kemajuan Indonesia. Kita bisa hidup berdampingan dengan saling menghargai budaya satu sama lain,” ucapnya.

Ia berharap dengan menjadi Cici Jogja 2020 juga dapat berkontribusi dalam setiap program kerja yang ada, selalu memberikan dampak positif untuk lingkungan sekitar dan membawa Koko Cici Jogja lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas. “Untuk Koko Cici Jogja terus bergandengan tangan, bersatu, dan berkomitmen untuk berkontribusi dalam melestarikan budaya Tionghoa terutama di Jogja. Kita semua sama tidak ada yang membedakan porsi satu orang dengan lainnya. Kita satu dalam keluarga Koko Cici Jogja. Bersama-sama kita bisa mewujudkan setiap program kerja yang ada.  Saya juga berharap pelestarian budaya Tionghoa bisa terus berkembang dan lebih di kenal oleh oleh masyarakat Jogja. Ditambah dengan kontribusi dari generasi-generasi muda, karena  generasi muda memiliki dampak yang besar dalam pelestarian budaya Tionghoa. Perlu adanya regenerasi agar budaya Tionghoa terus dilestarikan bukan untuk ditinggalkan,” ucapnya.