Sebelum Tragedi Susur Sungai, Pakar dari UGM Sudah Memperingatkan Ancaman Banjir Bandang di Sleman

Pakar Manajemen Sungai Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono ketika menggelar jumpa pers di UGM pada Jumat (14/2/2020) pagi.-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
22 Februari 2020 23:17 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Beberapa hari sebelum tragedi susur Sungai Sempor yang menewaskan sejumlah siswa SMPN 1 Turi, Sleman, pakar susur sungai telah mengingatkan tentang ancaman banjir bandang.

Pakar Manajemen Sungai Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono beberapa waktu lalu mengatakan DIY didominasi tebing dan lereng, oleh karena itu berpotensi terjadi banjir bandang. Pasalnya, longsoran tebing dapat menyebabkan tersumbatnya aliran sungai.

Dua kabupaten di DIY yang berpotensi banjir bandang ada di Sleman dan Gunungkidul. Di Sleman, terdapat sungai yang melewati Gunung Merapi dan di Gunungkidul kondisi geografinya menekuk pada bagian lereng pegunungan sehingga berpotensi terjadi banjar bandang.

"Seperti yang terjadi di Pantai Ngrenehan pada tahun lalu," ungkapnya saat jumpa pers di kantor humas UGM, Jumat (14/2/2020) pekan lalu.

Kendati demikian, terjadinya kapan banjir bandang tidak bisa diprediksi tetapi dapat diantisipasi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir bandang yakni melalui kegiatan susur sungai. Susur sungai dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat serta melibatkan pihak pemerintah.

Gerakan susur sungai bukan sekadar menengok keadaan kondisi sekitar sungai melainkan melakukan kegiatan bersih sungai dari timbunan kayu, sampah, dan longsor di tebing sungai. Sebab, sebagian besar penyebab banjir bandang dikarenakan adanya sumbatan di daerah hulu sungai.

"Sungai tersumbat oleh ranting dan pohon tumbang yang menumpuk. 90 persen karena sumbatan, maka semua pihak harus aktif membersihkan," katanya.

Tidak hanya sebagai bentuk antisipasi, kata dia, susur sungai juga memberikan dampak positif lainnya. Seperti dengan ditemukannya potensi sungai yang ada di wilayah tertentu.
Mulai dari ditemukannnya sumber mata air, aliran air yang deras untuk pembangkit listrik, sampai dengan lokasi baru di wilayah sungai untuk objek wisata.

“Sekarang banyak daerah yang punya sungai tapi tidak paham potensinya,” katanya.

Dalam pelaksanaan susur sungai juga harus dilakukan pemetaan sampai dipastikan sungai benar-benar bersih dari sumbatan. Menurutnya, jika aliran sungai tidak menuju lokasi penduduk, banjir bandang tidaklah memiliki masalah.

Hal tersebut karena cara sungai membersihkan alirannya dari sumbatan yang ada. Namun, jika tidak dibersihkan secara berkala, bisa menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.

Agus mencontohkan, beberapa daerah yang berhasil melakukan gerakan susur sungai yang menjadikan area sepanjang sungai menjadi bersih sekaligus menjadi lokasi objek wisata dan rekreasi adalah sungai Batu Bulan di Ambon dan Kali Pusur di Klaten.

Sungai tersebut, menjadi bersih dan jadi lokasi objek wisata baru. Tidak hanya mencegah bencana, gerakan susur sungai juga turut meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Seperti diketahui, ratusan siswa SMPN 1 Turi terseret arus sungai saat melakukan kegiatan pramuka susur Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020). Sebanyak delapan siswa ditemukan meninggal dunia, dua lainnya masih hilang. Kejadian nahas itu bermula saat tiba-tiba air dari wilayah hulu tumpah seketika atau yang biasa dikenal dengan banjir bandang, lalu menyapu seisi sungai.