Sastra Jogja Berkembang Mengiringi Dinamika Zaman

Dari kiri, Faruk Tripoli, Latief S. Nugraha dan Iman Budhi Santosa, dalam Temu Seniman dan Budayawan DIY 2020 dengan tema Genealogi Sastra Indonesia Modern di Jogja, di Ruang Seminar TBY, Rabu (26/2/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
26 Februari 2020 21:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Jogja tidak saja menyandang predikat Kota Pendidikan dan Kota Seni, tapi juga bisa jadi Kota Kesusastraan. Hal ini mengingat cukup kuatnya pengaruh sastra Jogja pada khasanah sastra nasional, juga semakin menjamurnya berbagai pegiat sastra dan penerbitan di Jogja.

Gayung bersambut, pada September 2019 lalu, Dinas Kebudayaan DIY menggelar Festival Sastra yang menjadi ajang bertemunya sastrawan dari seluruh penjuru negeri. Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan Pemerintah Provinsi DIY pada perkembangan sastra di Jogja.

Turut menyemarakkan dinamika sastra Jogja, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar Temu Seniman dan Budayawan DIY 2020 dengan mengusung tema Genealogi Sastra Indonesia Modern di Yogyakarta, di Ruang Seminar TBY, Rabu (26/2/2020).

Guru Besar UGM, Faruk Tripoli, mengatakan bersama dengan perpindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Jogja pada 1946, relatif banyak sastrawan dan seniman modern Indonesia yang hijrah ke Jogja dan kemudian menghidupkan kesenian dan kesastraan modern Indonesia di dalamnya, yang berlanjut dan berkembang hingga sekarang.

“Kesusastraan modern Indonesia lahir akibat munculnya semangat baru dalam masyarakat Indonesia sebagai akibat persentuhan mereka dengan kekuatan sosial, politik, dan ekonomi kolonial Belanda. Semangat baru itu adalah semangat untuk mempunyai kedudukan yang setara dengan negara barat khususnya Belanda,” ungkapnya.

Bersamaan dengan itu pula, terjadi resistensi terhadap masyarakat dan kebudayaan Barat di atas sebagai akibat dari kesadaran bahwa justru masyarakat dan kebudayaan Barat itu yang mendorong terjadinya imperialisasi dan kolonisasi terhadap wilayah, masyarakat, dan kebudayaan setempat, yang pada gilirannya menciptakan perasaan ketidakadilan dan bahkan keterhinaan bagi bangsa Indonesia.

Adapun perkembangan sastra selanjutnya kata dia, turut dipengaruhi oleh berbagai dinamika zaman seperti kembalinya Ibu Kota ke Jakarta, kampus, penerbitan, peranan kritikus sastra, figur-figur seperti Umar Kayam, Umbu Landu Paranggi, demonstrasi mahasiswa, pembentukan poros, wacana parawisata dengan perubahan lanskap yang dramatis dari Molioboro, peranan media massa, kafe, internet, dan lainnya.

Sastrawan Jogja, Iman Budhi Santosa, menuturkan setiap daerah di Indonesia, termasuk Jogja, selain melahirkan karya sastra Indonesia modern, diasumsikan juga memiliki tradisi sastra lokal yang mempunyai konvensi sendiri dan koheren dengan nilai-nilai budaya setempat.

Maka realitasnya, para sastrawan di daerah ada yang mencipta karya sastra menggunakan bahasa daerah, dan ada juga yang mengolah aspirasi kedaerahannya ke dalam sastra berbahasa Indonesia. “Sehingga tidak mengherankan jika para sastrawan di daerah dapat berperan ganda. Menjadi kreator karya sastra daerah sekaligus menjadi kreator karya sastra nasional,” ujarnya.

Menurutnya, setiap manusia termasuk sastrawan, memiliki apa yang disebut homeland atau kampung halaman. Dalam pandangan tradisional, kampung halaman diartikan sebagai tanah kelahiran seseorang, di mana para leluhur hingga orang tuanya menetap dan di sana pula ia dibesarkan.

Karena sejak masa kanak-kanak tinggal di sana, maka selama menjalani proses pendewasaan diri banyak nilai budaya dan kehidupan kampung halaman yang terserap membentuk landasan awal kepribadian yang bersangkutan. Ia mencontohkan keturunan orang Jawa yang lahir dan besar di Jawa tentulah akan mengikuti gerak kehidupan budaya yang diajarkan orang tua dan dianut masyarakat lingkungannya.

Sastrawan muda Jogja, Latief S. Nugraha, mengatakan dinamika sastra Jogja menyatu dan menyertai dinamika revolusi kebangsaan, yaitu saat bangsa Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya. Para seniman dan sastrawan Jogja ikut mengobarkan semangat perjuangan kemerdekaan lewat puisi, cerpen, novel, dan drama yang mengandung nilai, spirit, dan nuansa perjuangan sebuah bangsa.

“Pada pertengahan 1950-an sampai pertengahan 1960-an, antara Alun-alun Utara sampai Tugu adalah ruang panjang bagi hiruk-pikuk pemikiran dan ekspresi sastra dan budaya. Kawasan ini masih menjadi ruang budaya yang relatif utuh dan terjaga, belum berubah menjadi ruang ekonomi,” Katanya.