Potensi Gelombang Tinggi, Nelayan Tetap Melaut

Ilustrasi kenaikan gelombang di Pantai Baron, Gunungkidul, DIY. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
01 Maret 2020 23:37 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis potensi cuaca ekstrem akibat keberadaan Badai Ferdinand di Samudra Hindia yang terdeteksi sejak 24 Februari hingga awal Maret. Meski demikian, nelayan di Gunungkidul belum merasakan ancaman dan masih turun melaut.

"Kondisi gelombang laut masih normal dan nelayan masih melaut seperti biasa," kata Rujimanto, nelayan di Pantai Ngandong saat dihubungi Harian Jogja, Minggu (1/3/2020).

Rujimanto menuturkan saat ini angin dan gelombang sedikit meningkat karena menurut perhitungan kalender Jawa atau pranata mangsa angin mulai meningkat seiring datangnya pergantian musim. "Kami masih menganggap kondisi ini wajar seiring dengan perubahan musim dari musim penghujan ke musim kemarau, dan biasanya gelombang cukup tinggi tapi masih normal," katanya.

Majunya teknologi membuat nelayan bisa mengakses informasi terkini terkait dengan cuaca sehingga jika ada cuaca ekstrem nelayan bisa langsung mengetahuinya. "Hasil pantauan sampai saat ini belum ada tanda-tanda ancaman gelombang yang tinggi," paparnya.

Koordinator SAR Wilayah I Gunungkidul, Sunu Handoko, saat dikonfirmasi mengungkapkan nelayan saat ini masih aktif melaut seperti biasa. Meski demikian Sunu meminta kepada para nelayan untuk terus meningkatkan kewaspadaan saat melaut. "Nelayan masih beraktivitas seperti biasa, yang terpenting tetap harus berhati-hati," ujarnya.

Sunu mengimbau kepada nelayan untuk tak memaksakan diri turun melaut saat kondisi cuaca dan gelombang di pantai selatan tidak bersahabat. Jika perlu, melaut bersama-sama merupakan solusi yang cukup baik.

Berdasar rilis yang dikeluarkan BMKG, untuk sepekan pertama Maret 2020 kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia seperti pesisir barat Sumatra, Aceh, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, sebagian besar Jawa, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua, akan dilanda cuaca ekstrem.

"Analisis dinamika atmosfer terkini, pola tekanan rendah di wilayah belahan bumi selatan [BBS] masih cukup aktif berpengaruh pada pembentukan potensi cuaca ekstrem di Indonesia," kata Deputi Bidang Meteorologi Mulyono R. Prabowo melalui rilis resminya, Minggu.