Warga Lereng Merapi di Glagaharjo Sempat Bergerak ke Titik Kumpul saat Merapi Meletus

Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
03 Maret 2020 17:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Gunung Merapi kembali erupsi pada Selasa (3/3/2020) pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom erupsi vertikal kurang lebih 6.000 meter atau enam kilometer dari puncak.

Erupsi di pagi hari tersebut membuat sejumlah warga di tiga dusun yakni Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen yang ada di Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman sempat bergegas dari rumah ke tempat titik kumpul.

Berdasarkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), erupsi tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik. Sedangkan, awan panas guguran ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak maksimal dua kilometer. Sementara, untuk arah angin saat erupsi menuju ke utara.

Kabid Kedauratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan jika warga sudah siaga di titik kumpul dan daerah bahaya dikosongkan dengan radius tiga kilometer dari puncak. "Belum perlu evakuasi warga," ujar Makwan, Selasa (3/3/2020).

Erupsi gunung merapi dengan tinggi kolom sejauh 6.000 meter membuat Makwan dan jawatannya memberikan 1.000 masker kepada warga di tiga dusun yakni Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul dan, Srunen.

Lebih lanjut, arah angin yang bergerak menuju utara dan timur saat terjadinya erupsi Gunung Merapi membuat wilayah Kabupaten Sleman terbebas dari hujan abu vulkanis. Sedangkan, berdasarkan data di lapangan, hujan abu terjadi di wilayah Boyolali, Klaten, bahkan sampai dengan sebagian kecil wilayah Solo.

"Hasil pantauan tim reaksi cepat (TRC) BPBD Sleman di wilayah kabupaten Sleman nihil terjadi hujan abu, angin kebetulan ke arah utara, pantauan abu vulkanik lebih banyak jatuh di wilayah utara, abu vulkanis halus jatuh di Boyolali. Sementara wil Sleman aman terkendali, warga beraktivitas biasa," jelasnya.

Lebih lanjut, berdasarkan catatan dari BPPTKG Gunung Merapi yang sudah berstatus waspada sejak 21 Mei 2018 ancaman bahaya yang potensial ditimbulkan saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanis dari letusan eksplosif.
Kemudian, area dalam radius tiga km dari puncak Gunung Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.

Guna menghadapi banjir lahar dari material vulkanik Merapi, Makwan dan jawatannya juga sudah menyiapkan early warning system (EWS) di lereng Merapi dengan totalnya mencapai 22 unit. "Untuk banjir lahar kita siapkan lima di Gendol, Opak, dan Gowong" imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Desa Glagaharjo, Rambat Wahyudi mengatakan jika warga di tiga dusun di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan yakni Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen mendengar gemuruh saat erupsi gunung merapi terjadi pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom sejauh 6.000 meter.

"Warga di tiga dusun juga sempat berkumpul di titik kumpul yang berada di tiap tiap dusun. Untuk Kalitengah Lor berada di sebelah timur pos KSM yang berada di lapangan Kalitengah Lor. Kalau di Kalitengah Kidul ada di Kaliapus. Sedangkan, untuk di Srunen sendiri titik kumpul berada di dekat Masjid Srunen. Warga tidak panik, sudah tahu harus bagaimana ketika ini (erupsi Merapi) terjadi, mereka kembali ke rumah masing-masing 30 menit pascaerupsi" jelasnya.

Adapun, ketika ditanya mengenai hujan abu yang terjadi di ketiga wilayah tersebut, Rambat menjelaskan jika tidak ada hujan abu yang turun di wilayah tiga dusun yang dekat dengan puncak merapi tersebut. Hujan abu terpantau terjadi di wilayah Boyolali, Klaten, bahkan mencapai wilayah Solo karena arah angin berdasarkan keterangan dari BMKG Staklim Mlati Yogyakarta memang bergerak ke arah timur. "Untuk Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen negatif hujan abu," imbuhnya.