Akulturasi Pengaruhi Penyajian Musik

Penampilan musik Cokek dalam acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo\\n\\n
05 Maret 2020 06:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai akulturasi Tionghoa dan Indonesia memengaruhi sejumlah alat musik dan penyajian musik yang ada saat ini.

Ketua I Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto mengatakan adanya budaya yang ada saat ini, telah mengalami proses yang sangat panjang. Persinggungan, peleburan budaya antar daerah atau dengan antar negara pun kerap terjadi.

“Ada akulturasi dalam proses panjang ini. Tidak hanya alat musik, beberapa lagu Tionghoa saat ini juga banyak diterjemahkan dengan versi bahasa Indonesia,” kata Jimmy, Rabu (4/3).

Dicontohkannya ada beberapa alat musik yang mengalami persinggungan budaya. Seperti alat musik seruling, ada sejumlah persamaan dan perbedaan seruling yang ada di Tiongkok dan di Indonesia. “Suling di tiongkok di dekat lubang tiup ada seperti selaput yang ditempelkan suaranya ada getaran, kalau di Jawa kan biasa tidak ada,” katanya.

Kemudian ada juga, alat musik siter yang dinilai juga karena persinggungan dengan budaya Tionghoa, yang telah rastusan tahun berada di Indonesia. Akulturasi ini harus menjadi sesuatu yang dapat dijaga dan dilestarikan.

Jimmy juga mengatakan tidak menutup kemungkinan, seiring berkembangnya zaman akan terjadi perubahan-perubahan atau akulturasi baru. Dicontohkannya di Tiongkok sendiri ada perpaduan wayang orang disana dengan musik khas barat.

“Tidak menutup kemungkinan aka nada akulturasi baru. Perkembangan zaman yang terjadi saat ini dengan semakin banyaknya pekerja seni, bisa menciptakan kemajuan termasuk akulturasi,” ucapnya.