Dinas Kesehatan DIY Terus Pantau Penyebaran Virus Corona

Acara Workshop "Cerdas dan Aman Menangani Virus Corona", yang berlangsung di The Rich Jogja Hotel, Sabtu (29/2/2020)./Harian Jogja-ST19 - Siti Halida Fitriati
06 Maret 2020 12:57 WIB ST19/ Siti Halida Fitriati Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Beberapa waktu lalu DIY sempat dihebohkan dengan adanya enam kasus Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Namun, berdasarkan hasil pemantauan dan pengawasan yang dilakukan tidak ada yang positif terjangkit virus mematikan tersebut.

"Dua hasil labnya negatif, dua Anti Phospolipid Syndrome [APS], dan dua dinyatakan sehat dan boleh pulang," kata Ketua Dinas kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie dalam acara workshop "Cerdas dan Aman Menangani Virus Corona", di The Rich Jogja Hotel, Sabtu (29/2/2020).

Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan melalui kerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari Badan Intelejen Nasional (BIN), Polisi Daerah (Polda), dan seluruh rumah sakit serta puskesmas yang berada di seluruh DIY.

"Jangan khawatir kita sudah merapat dengan BIN dan Polda. Kemudian dengan teman-teman puskesmas di dinas kesehatan kabupaten kota. Jadi ini adalah kerja bersama. Bapak gubernur juga nanti akan ada komitmen beliau terhadap kasus ini," kata Pembayun, sebagai pemateri dalam workshop "Cerdas dan Aman Menangani Virus Corona".

Sejauh ini, alat termal scanner sudah dipasang di Bandara Adisucipto dan Yogya Internasional Airport. Ketika terdapat warga diduga terkena Covid-19, maka akan langsung dilaporkan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, untuk mencegah resiko penularan yang terjadi.

"Kurang dari 24 jam wajib hukumnya, segera melapor. Dari KKP dan yang terpantau dari termal scanner tadi," ujar Pembayun.

Kemudian langsung melakukan koordinasi dengan puskesmas atau rumah sakit setempat untuk melakukan pemeriksaan awal. Selanjutnya, apabila status pasien terdapat tanda terkena wabah virus Corona, maka perlu dilakukan rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito atau Rumah Sakit Panembahan Senopati untuk diberikan penanganan lebih lanjut.

Sesampai di rumah sakit pun penanganan tetap diperketat. Di rumah sakit Sardjito pasien benar-benar diisolasi dari lingkungan sekitar walau belum positif terkena wabah Corona. Pertama pasien akan dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kemudian, dilakukan pengawalan secara ketat menuju ruang airbone untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

"Pada saat di IGD pasiennya baik berarti pasien tidak diturunkan di kendaraan yg membawa. Cukup yag terkontak mobil itu saja. Karena di kendaraan itu nanti akan dilakukan foging, sanitasi, apakah dilakukan dekontaminasi. Nah di sini pasien tersebut akan dikawal oleh petugas untuk menuju ruang isolasi. Dan jalan harus dibersihkan, pengunjung area harus disingkirkan menuju melati lima. Di melati lima atau ruang airbone inilah akan dilakukan pemeriksaan fisik, rontgen dan pemeriksaan lainnya, " kata Ketua Tim Viral Airborne RSUP dr. Sardjito, Ika Trisnawati.

Sementara itu, masyarakat tetap harus waspada. Sebab, virus ini rentan menular akibat dari perubahan gaya hidup masyarakat. Masyarakat yang hobi memakan daging hewan liar seperti daging tikus dan kelelawar juga perlu mewaspadai serangan virus ini.

Berdasarkan penuturan dari Indonesia One Health University Network UGM, Wayan Tunas, kelewar dan tikus merupakan awal mula dari berbagai jenis penyakit. Ada belasan jenis penyakit yang dapat ditularkan pada manusia, salah satunya Covid-19.