DIY Tambah 2 Rumah Sakit Rujukan Corona, Ini Rinciannya

Sejumlah warga tergeletak lemas setelah mengalami mual dan muntah di RSUD Wates, Selasa (10/4/2018). - Harian Jogja/Beny Prasetya
06 Maret 2020 02:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebanyak dua rumah sakit di DIY ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan untuk penanganan pasien yang terindikasi virus corona atau COVID-19.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembayun Setyaningastuti menjelaskan setelah diterbitkannya intruksi, semua Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit harus membuat laporan secara berkala.

Selain itu kabupaten dan kota diminta membuat posko dan hotline atau line komunikasi khusus tentang penanganan penyebaran Virus Corona, melalui 0811276480. Refresh tenaga kesehatan juga dilakukan sebelum sebagai langkah antisipasi penyebaran Virus Corona di wilayah DIY.

"Kamis sudah berupaya meminta Kementerian Kesehatan untuk memberikan solusi terhadap kekosongan masker, APD [alat pelindung diri] sudah mulai berkurang. APD ini sangat penting untuk rumah sakit rujukan," ungkapnya Kamis (5/3/2020).

Ia menambahkan berdasarkan keputusan dari Kementerian Kesehatan jumlah rumah sakit yang menangani pasien Virus Corona untuk wilayah DIY ditambah menjadi dua rumah sakit. Jika sebelumnya hanya RSUP Sardjito dan RSUD Panembahan Senopati Bantul, saat ini ditambah RSUD Kota Jogja dan RSUD Wates Kulonprogo.

Penunjukan rumah sakit sebagai tempat rujukan suspect corona dengan mempertimbangkan ketersediaan sarana prasarana, salah satunya fasilitas ruang isolasi. Selain itu sumber daya manusia (SDM) seperti dokter spesialis paru, atau dokter penyakit dalam yang memiliki kompetensi dan cukup kemampuannya untuk merawat pasien paru.

"Selain itu jenis pelayanan yang sudah dilakukan di rumah sakit, ada ketentuan dari Kementerian Kesehatan. Untuk ruang isolasi Bantul ada empat, Kulonprogo empat ruang, RSUD Kota Jogja ada 10 ruang dan Sardjito cukup banyak," katanya.

Pihaknya menekankan perlunya disosialisasikan terkait angka kesembuhan kasus Corona yang tergolong tinggi. Angka kematian lebih banyak di atas usia 60 tahun. Secara global per 28 Februari, dari 85726 orang terinfeksi sebanyak 39.797 orang diantaranya telah dinyatakan sehat.

Artinya ada sekian persen yang lebih bisa kembali sehat, tingkat kematian di luar Wuhan 0,7%. Pasien terinfeksi secara global usia kurang dari 9 tahun 0% terinfeksi, usia produktif, 20 hingga 48 tahun 0,2% yang terinfeksi, usia 50 sampai 59 tahun 1,3%, usia 60 sampai 69 tahun 3,6%, kemudian usia 70 sampai 79 8%, sedangkan di atas 80 tahun sebanyak 14,8% yang terinfeksi.

"Angka kesembuhannya sebenarnya jauh lebih besar dan yang terkena lebih banyak pada usia di atas 60 tahun," katanya.