Pasien yang Diisolasi di RSUP Dr Sardjito Akhirnya Meninggal Dunia

Sejumlah awak media mengabadikan ruang isolasi di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Rabu (29/01/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
06 Maret 2020 16:17 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Seorang perempuan berusia 75 tahun yang sempat dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito karena diduga terjangkit virus corona meninggal dunia pada Kamis (5/3/2020) sekitar pukul 11.30 WIB.

Sebelumnya, pasien tersebut merupakan rujukan dari RS Kota Jogja karena menderita gangguan pernapasan seusai pulang umrah di Mekkah, Arab Saudi.

Dokter Spesialis Pulmonologi (paru) RSUP Dr Sardjito, Munawarman Ghani, menyatakan pasien meninggal bukan karena virus corona maupun flu unta atau Mers. Berdasarkan hasil diagnosa, pasien meninggal dunia karena sudden cardiac death yaitu kematian mendadak karena jantung berhenti berdetak tiba-tiba.

"Dilihat dari hasil pemeriksaan sangat dimungkinkan ia punya riwayat kurang kalium dan gangguan jantung," katanya dalam jumpa pers di RSUP Dr Sardjito pada Jumat (6/3/2020) siang.

Selama dirawat di ruang isolasi, secara klinis demamnya hilang dan tidak mengalami sesak napas. "Klinisnya sebelum meninggal dunia dalam keadaan baik," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, setelah meninggal dunia, hasil uji laboratorium dari sampel darah serta usap tenggorokan dari Litbangkes Jakarta menunjukkan korban tidak mengidap Covid-19. RSUP Dr Sardjito menerima hasil laboratorium pada Kamis (5/3/2020) sekitar pukul 19.30 WIB.

Pihak keluarga korban pun sudah diberitahu ia meninggal bukan karena virus Corona. Jenazah sudah diberangkatkan ke kampung halamannya di Bengkulu menggunakan pesawat lewat bandara Adisutjipto.

"Jenazah berangkat dari Jogja pada pukul 04.30 WIB hari ini [Jumat, 6/3/2020]," ungkapnya.

Tim Airborne Diseases RSUP dr Sardjito, Ika Trisnawati menjelaskan, prosedur pemulangan jenazah dari ruang isolasi yakni pasien diperlakukan seperti pasien dalam tahap pengawasan maka dibungkus dengan plastik. "Kami tetap menggunakan standar kewaspadaan saat memulangkan jenazah ke kampung halamannya," kata Ika.

Namun demikian, hasil laboratorium yang menyatakan almarhum tidak meninggal karena virus Corona maka ketika akan dimakamkan, plastik pembungkusnya boleh dibuka.

"Korban juga sudah ada keterangan kematian dari tim forensik," imbuhnya.