Warna Merah Lambang Keberuntungan

Pengunjung toko sedang melihat-lihat baju cheongsam di salah satu toko di jl Ketandan, Jogja, Rabu (23/1). - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
12 Maret 2020 06:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warna merah memiliki kaitan yang erat dengan kebudayaan Tionghoa. Warna ini mudah dijumpai dalam bangunan khas Tionghoa, kelenteng, dan pada saat festival.

Pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong atau Kelenteng Poncowinatan, Jogja Margo menyebutkan warna merah merupakan warna yang umum dipakai oleh masyarakat Tionghoa. "Warna ini memiliki makna peruntungan yang baik, kesuksesan, serta kebahagiaan," kata dia beberapa waktu lalu.

Dengan menyematkan warna tersebut, diharapkan akan membawa keberuntungan dan kesuksesan. Warna ini bisa dijumpai di bangunan khas Tionghoa, kelenteng, bangunan, gerbang, dan pada saat festival. Dalam acara pernikahan, festival, dan perayaan lain banyak yang memakai baju berwarna merah. Selain itu, angpau merah yang berisikan uang dibagikan selama Tahun Baru Imlek.

Bicara soal warna, dilansir dari Tionghoa.info, ada tiga warna hoki yang utama yakni merah, kuning, dan hijau. Warna merah melambangkan kebahagiaan, kesuksesan, dan nasib yang baik.

Merah merepresentasikan api, dan merupakan warna yang paling populer di Tiongkok. Warna ini juga merupakan warna nasional yang melambangkan kebahagiaan, keindahan, kesehatan, keberuntungan, kesuksesan, dan hoki. Warna merah sangat populer dalam korelasinya dengan segalanya tentang Tiongkok, dan digunakan secara luas selama festival dan acara2 penting, seperti pernikahan.

Warna kuning mengandung makna kekaisaran dan kekuatan tahta. Warna Kuning dihubungkan dengan bumi (pusat), melambangkan kekaisaran dan khusus diperuntukkan untuk Kaisar. Kaisar pertama Tiongkok dikenal sebagai Kaisar Kuning. Tiongkok sering disebut Bumi Kuning dan sungai utamanya adalah Sungai Kuning. Warna kuning merupakan warna paling penting menurut persepsi masyarakat kuno Tiongkok.

Selama kekuasaan Dinasti Song (960-1279), keramik berkilau yang berwarna kuning digunakan untuk membangun istana kerajaan. Guci dan patung hewan bersepuh tembaga, menghiasi ruangan-ruangan dalam istana. Pada masa Dinasti Ming (1368-1644) dan Qing (1636-1911), para Kaisar diberi baju kebesaran berwarna kuning. Mereka bepergian menggunakan tandu istana kuning dan melakukan perjalanan di jalur kuning. Selain itu, bendera resmi kenegaraan (dinasti) juga dominan berwarna kuning, dan stempel kerajaan dibungkus dengan kain yang berwarna kuning.

Dalam Buddhisme Tiongkok, warna kuning diasosiasikan dengan kebebasan dari kebutuhan material (kemelekatan), oleh karena itu para biksu menggunakan jubah kuning.

Warna hijau merupakan lambang uang dan kekayaan. Hijau adalah warna kekayaan, kesuburan, regenerasi, harapan, harmoni, dan pertumbuhan. Hijau juga melambangkan kemurnian dan kebersihan.

Berbagai bangunan, seperti bank dan restoran sering dicat dengan warna hijau. Bungkus susu atau produk turunannya juga berwarna hijau, sebagai indikasi bahwa produk tersebut bebas dari kontaminasi (alami).

Hijau adalah warna kekayaan, kesuburan, regenerasi, harapan, harmoni, dan pertumbuhan. Hijau juga melambangkan kemurnian dan kebersihan.

Berbagai bangunan, seperti bank dan restoran sering dicat dengan warna hijau. Bungkus susu atau produk turunannya juga berwarna hijau, sebagai indikasi bahwa produk tersebut bebas dari kontaminasi (alami).