Ninik, Penata Rias yang Banting Setir Jadi Penjahit di Tengah Pandemi Corona & Rela Tak Dibayar untuk Membuat Puluhan APD

Ninik Setiyaningsih menjahit APD di rumahnya, Rabu (1/4/2020). Ia menjahit puluhan APD tanpa ongkos. - Lajeng Padmaratri
03 April 2020 14:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Hari-hari Ninik Setiyaningsih, 40, pada Maret ini sebenarnya lumayan sibuk. Sejak jauh hari, ia sudah diminta menata rias sejumlah pasangan pengantin yang akan naik pelaminan.

Sejak lama ibu dua anak ini sudah punya usaha rias pengantin di rumahnya di Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja. Tempat tinggalnya mudah ditemukan dengan pelang bertuliskan “Rias Pengantin Shinta” yang tampak dari pinggir jalan.

Namun, memasuki pertengahan Maret, pesanan rias penganten mulai dibatalkan. Musababnya adalah merebaknya Covid-19 yang memaksa pemerintah membatasi  kegiatan yang menundang kerumunan, termasuk acara pernikahan. Sejak saat itu Ninik tak melayani jasa rias pengantin.

Merasa punya banyak waktu senggang, Ninik kemudian membantu salah seorang kawannya untuk menjahit alat pelindung diri (APD). Kebetulan, kawannya kedapatan pesanan membuat APD dari sukarelawan untuk didistribusikan ke tenaga kesehatan di sejumlah rumah sakit.

Itu bermula dari sebuah grup Whatsapp yang beranggotakan sesama penjahit kain kiloan. Sekitar dua pekan lalu, salah seorang teman Ninik yang tinggal di Ring Road Selatan menawarkan ke anggota grup itu untuk membantunya menjahit APD karena ia kebanjiran pesanan. Namun, lantaran aksi ini sepenuhnya sukarela untuk bantuan bagi tenaga medis, kawannya tak berani memberikan jaminan ongkos ganti jahit.

“Dari situ banyak respons, ada yang mendukung, ada yang tidak percaya jangan-jangan tidak diganti ongkos karena untungnya mau diambil sendiri. Beragam responsnya, tapi itu terserah orang-orang. Saya tidak berpikir ke sana, saya berpikir positif saja dan ayo saya bantu karena kondisinya seperti ini,” kata Ninik ketika ditemui Harian Jogja di rumahnya pada Rabu (1/4/2020).

Jarak rumah antarkeduanya sempat jadi kendala.

“Dia di Ringroad Selatan. Setiap saya ngedrop APD yang sudah jadi, saya Gosend [mengirim lewat jasa pengiriman daring] ke sana dan biayanya saya yang tanggung,” ujar Ninik.

Sekali kirim barang dari Baciro ke Ringroad Selatan, Ninik bisa menghabiskan biaya hampir Rp30.000. Belum lagi jika APD tidak sekaligus dikirim seluruhnya, tetapi terbagi beberapa kali.

Sudah dua pekan ini di mengerjakan pesanan jahit APD. Dalam sehari, ia bisa maksimal menjahit 10 potong, tetapi itu jarang sekali karena waktu istirahatnya jadi sangat kurang. Terlebih, tidak setiap hari bahan baku datang, karena stok kain juga semakin sedikit. Sampai saat ini, sekitar 80 APD telah ia jahit dengan bantuan salah seorang tetangganya.

Mulanya, Ninik mengaku agak kagok menjahit APD karena ia hanya paham cara menjahit dasar, apalagi dia tak pernah ikut kursus. Kemampuannya hanya bersumber dari menonton ibunya yang sempat menjadi penjahit. Namun, berbekal tekad membantu sesama, ia berlatih menjahit APD berdasarkan pola yang sudah diberikan.

APD buatannya yang didesain sekali pakai itu menggunakan bahan kain spunbond. Kini, kain ini mulai langka karena banyak diburu untuk membuat APD darurat bagi tenaga medis. Satu APD, kata Ninik, membutuhkan kain sepanjang tiga meter, karet, dan retsleting. Harganya sekitar Rp50.000. Namun Ninik rela tidak dibayar untuk menjahitkannya. APD buatannya kemudian dikirim ke rumah sakit yang Ninik sendiri tak tahu betul.

“Saya hanya tahu dikirim ke seluruh rumah sakit di Jogja,” kata dia. Namun, ia tak mempermasalahkan itu selama masih bisa urun tenaga sebisanya.

Berkat inisiatifnya itu, beberapa tetangga di kampungnya juga pengin dibuatkan APD. Permintaan itu ia sambut baik. Ninik sudah menyediakan sekitar 50 meter kain spunbond untuk dijahit menjadi APD bagi warga di kampungnya.

“Suami saya sempat minta untuk dipakai nyemprot [disinfektan] di kantor. Saya buatkan yang pelindung sepatu juga,” katanya.

Dia juga baru saja memberikan satu set APD untuk salah seorang tetangganya yang berkeliling menyemprotkan disinfektan di kampungnya.

Anaknya pun tertarik dan minta dibuatkan masker kain dari bahan yang sama. “Katanya mau dijual ke teman-temannya, enggak apa-apa biar belajar usaha,” katanya.

“Saya tidak nyari apa-apa. Kalau niatnya mau bantu ya bantu saja.”