Corona Jogja: Ditolak Warga, 2 Kru Kapal Pesiar Masih Tinggal di Asrama Haji Jogja

Ilustrasi - Freepik
12 April 2020 18:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dua kru kapal pesiar yang ditolak oleh warga kampung halamannya masih tinggal di Asrama Haji Jogja.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman pada Sabtu (11/4) sore menerima dua kru kapal pesiar Carnival yang juga ditolak oleh warga.

Keduanya berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dan pelaku perjalanan area terdampak (PPAT). “Ya kemarin sore, ada kru hotel kapal pesiar Carnival dari Amerika Serikat yang ditolak warga. Jadi sementara diminta di sini,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan, Minggu (12/4/2020).

“Semua pemudik ini tinggal di selter karena ditolak oleh warga. Karena ditolak oleh warga, Pemkab menampung mereka untuk dikarantina di Asrama Haji. Baik ODP [orang dalam pemantauan] maupun OTG/PPAT dikarantina selama 14 hari," katanya.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Sleman Shavitri N. Dewi mengatakan 12 orang yang dikarantina di Asrama Haji meliputi empat ODP masing-masing MA, 29, laki-laki, HF, 53, laki-laki, Jn, 38, perempuan, dan Kr, 38, laki-laki. "Semua kondisi kesehatannya sampai hari ini terus membaik," katanya.

Adapun OTG meliputi HDA, 19, laki-laki, AD, 19, laki-laki, BKZ, 19, laki-laki, MNC, 19, laki-laki, keempatnya merupakan pelajar SMK yang selesai mengikuti PKL di Bogor. Kemudian, Pr, 25, laki-laki, pemudik yang sempat menginap di Wisma Sembada sebelum dipindah ke Asrama Haji. "Wisma Sembada terpaksa dikosongkan karena kalau Merapi erupsi harus angkut ke bawah juga," katanya.

Selain itu, ada Mw, 48, perempuan, dan YP, 24, laki-laki, perjalanan dari Bekasi sudah kembali ke rumahnya di Berbah setelah dijemput Satgas Kecamatan. Satu orang Sw, 45, laki-laki juga dijemput oleh Gugus Tugas Dusun Jaban.

Dia berharap masyarakat semakin teredukasi sehingga ODP ringan maupun OTG dapat melakukan isolasi mandiri di rumah masing masing.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan selama di selter para penghuni karantina selalu dicek kesehatan secara rutin. Termasuk pemberian obat sesuai indikasi. "Pemeriksaan rutin tiap hari untuk vital sign [tes darah, nadi, respirasi, suhu] dan anamnesis sesuai format rekam medis," kata Joko.

Joko mengatakan seluruh orang luar yang datang ke Sleman dari daerah terjangkit dan bergejala ISPA dimasukkan kategori ODP. Sementara yang tidak memiliki gejala ISPA berstatus OTG. "Semuanya perkembangan kesehatan mereka yang ada di selter, kami pantau. Di Asrama Haji kami buat kelompok piket pemantau kesehatan yang dibagi tiga shift," kata Joko.