Kasus Positif Corona Meningkat, Bantul Belum Ajukan PSBB

Ilustrasi - Freepik
14 April 2020 15:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul belum berencana mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada Gubernur DIY untuk mencegah penularan Coronavirus Disease (Covid-19). Padahal kasus infeksi penyakit yang disebabkan virus Corona tersebut di Bantul terus bertambah dari hari ke hari.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul Helmi Jamharis mengatakan kasus Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir. Namun, penerapan PSBB perlu memikirkan dampak sosial dan ekonomi. Selain itu, PSBB juga bukan merupakan kebijakan lokal kabupaten, tetapi harus mengacu pada kebijakan yang diterapkan Pemda DIY.

Sejauh ini, kata dia, Pemda DIY belum menetapkan perlunya PSBB. “Sepanjang Gubernur DIY DIY belum menentukan bahwa DIY menjadi PSBB maka kami pun tak akan melaksanakan kebijakan tersebut,” kata Helmi, Selasa (14/4/2020).

“Kebijakan PSBB menunggu instruksi lebih lanjut dari Pemda DIY.”

Komandan Kodim 0729 Bantul Letnan Kolonel Didi Carsidi mengatakan PSBB di Bantul belum diperlukan karena belum ada penularan atau transmisi lokal. Sejauh ini, kata dia, semua pasien positif Covid-19 di Bantul tertular dari luar daerah atau tertular dari orang yang baru bepergian. Lagipula, Pemda DIY sampai saat ini belum memberlakukan PSBB. “Artinya untuk PSBB di DIY tidak ada, termasuk di Bantul,” ujar Didi.

Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Infeksi Covid-19 Bantul, jumlah pasien positif terinfeksi Covid-19 sampai 13 April 2020 sebanyak 11 orang. Dari jumlah tersebut satu orang meninggal dunia, dan tiga lainnya dinyatakan sembuh.

Sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 139 orang.Hasil pemeriksaan 63 orang negatif dan mereka sudah pulang ke rumah. Adapun yang masih proses uji laboratorium sebanyak 65 orang. Dari 65 yang yang masih proses uji laboratorium, lima orang meninggal dunia.

Data orang dalam pemantauan (ODP) juga terus meningkat hingga mencapai 684 orang. Dari jumlah itu, dua orang meninggal dunia dan 173 orang sembuh. Jumlah ODP ini terjadi tersebar di 17 kecamatan.

Berdasarkan catatan Harian Jogja, kasus positif Covid-19 pertama terjadi di Bantul pada 20 Maret yang menimpa Kepala Kejaksaan Negeri Bantul atau Pasien 01 yang berasal dari Kecamatan Bantul. Lima hari kemudian atau 25 Maret, pasien positif Covid bertambah menajdi tiga orang. Dua lainnya warga Bambanglipuro dan Kasihan.

Selang tiga hari atau 27 Maret bertambah satu menjadi empat orang. Pasien tersebut adalah seorang ASN berinisial Th di rumah sakit khusus Paru Respir yang kemudian meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia disebut sudah sembuh dari Covid-19. Dari keterangan Gugus Tugas Covid DIY, Th tertular dari S yang masih dalam perawatan di RSUD Jogja saat berobat di Respira.

Pada 31 Maret bertambah, pasien positif bertambah menjadi lima orang, 2 April menjadi enam orang, 4 April tujuh pasien positif,  5 April delapan pasien positif, dan 12 April melonjak menjadi 11 pasien positif. Tiga pasien tambahan tersebut merupakan satu keluarga asal Kecamatan Kasihan yang baru melakukan perjalanan dari Jakarta.

Sebenarnya 13 April terdapat tambahan satu orang pasien positif berdasarkan data Gugus Tugas Covid Pemda DIY. Namun Gugus Tugas Covid Bantul belum mendapatkan data tambahan, sehingga per 13 April masih di angka 11 orang pasien positif.

Ketua DPRD Bantul, Hanung Raharjo mengatakan meski tidak ada PSBB di Bantul, masyarakat harus meningkatkan kesadaran dalam memutus mata rantai penularan Covid dengan cara mematuhi imbauan pemerintah untuk menjaga pola hidup bersih, menjaga jarak, dan kesadaran mengisolasi mandiri setelah melakukan perjalanan dari luar daerah.

Ia juga meminta Pemkab Bantul lebih responsif dalam menangani persoalan pandemi Corona ini. Tidak hanya menunggu masyarakat yang sudah bergejala, namun perlu melakukan tes cepat, serta edukasi yang terus menerus karena belum semua masyarakat paham pola penyebaran SARS-CoV tersebut.

“Warga Bantul sebenarnya tidak ngeyel, patuh terhadap imbauan, hanya perlu edukasi terus,” kata Hanung.