Farmasi UGM Produksi Ribuan Media Pembawa Dahak

Ilustrasi. - Freepik
15 April 2020 14:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Merebaknya pandemi Covid-19 membuat kebutuhan rumah sakit terhadap media pembawa virus atau viral transport medium (VTM) cukup tinggi. Namun, kebutuhan di sejumlah rumah sakit masih belum terpenuhi.

Berangkat dari kondisi tersebut, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat program pengadaan VTM untuk mendukung pengujian pasien berkaitan dengan Covid-19. Saat ini, produksi yang dilakukan oleh Fakultas Farmasi UGM telah mencapai 3.000 unit.

VTM merupakan media pembawa dahak atau spesimen lendir hidung dan tenggorokan pasien untuk kemudian dilakukan uji swab di laboratorium. Pasien yang diduga terpapar Covid-19 akan diambil spesimen lendir hidung dan tenggorokannya untuk selanjutnya dicek hasilnya lewat tes PCR (Polymerase Chain Reaction).

Ketua Prodi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi UGM, Ika Puspitasari, menuturkan produksi VTM ini dilakukan di Laboratorium Advanced Pharmaceutical Science (APS) Fakultas Farmasi UGM. Menurutnya, pembuatan VTM ini untuk memenuhi kebutuhan di beberapa laboratorium pengujian swab PCR yang selama ini harus membeli VTM siap pakai, namun akhir-akhir ini pemesanan butuh proses yang lama dan harganya mulai mahal.

Dikatakan Ika, Fakultas Farmasi UGM tengah berkoodinasi dengan ekspedisi untuk pendistribusian VTM ke sejumlah rumah sakit di luar DIY. "[Sudah dikirim ke] RSUD di Jateng, seperti Rembang, Kudus, dan Semarang. Juga RS swasta di Cikarang, Tangerang, dan Jakarta," kata Ika ketika dihubungi Harian Jogja pada Rabu (15/4/2020).

Menurutnya, distribusi VTM saat ini lebih sering ke luar DIY karena rumah sakit di DIY sementara ini masih tercukupi dengan stok yang ada.

Sementara itu, Dosen Laboratorium Rekayasa Makromolekul Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, Riris Istighfari Jenie menjelaskan produksi VTM telah mengacu pada protokol Centers for Disease Control and Prevention Amerika. Untuk membuatnya diperlukan beberapa bahan yang saat ini harus dipesan dari Jakarta.

"Mudah-mudahan tidak ada kendala untuk program ini, mengingat Jakarta dan beberapa daerah sedang menjalankan PSBB sehingga bayangan kita akan memperlambat proses pengadaan bahan baku," urai Riris.