Warga Baciro Sambut Isolasi Tenaga Medis, Wakil Wali Kota Jogja Menangis, Anda Adalah Pahlawanku...

Warga menyambut kedatangan para tenaga medis yang merawat pasien Covid-19 di kompleks Pusat Pendidikan & Pelatihan (Pusdiklat) SDM Kemendagri di Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja.-Harian Jogja - Desi Suryanto
16 April 2020 21:12 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Warga Kelurahan Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja mendatangi kompleks Pusat Pendidikan & Pelatihan (Pusdiklat) SDM Kemendagri yang berada di Jalan Argolubang, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (16/4/2020). Mereka membawa sejumlah poster di sekitar gedung yang digunakan untuk isolasi bagi tenaga kesehatan tersebut. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

Sekitar pukul 13.45 WIB, tak lebih dari 30 warga berusia muda hingga tua mengenakan masker menuju ke pintu timur Gedung Pusdiklat SDM Kemendagri. Mereka membawa sejumlah poster yang ditenteng di kedua tangan. Kedatangan warga ini bukan untuk melakukan protes kepada pemerintah. Sebaliknya, mereka ingin memberikan dukungan moral kepada para tenaga kesehatan yang sejak Kamis (16/4/2020) akan menempati kamar-kamar gedung tersebut untuk menjalani isolasi.

Warga Baciro ini tak sekadar ingin tampil beda di tengah banyaknya masyarakat yang memandang sebelah mata tenaga kesehatan yang mengurusi pasien Covid-19. Para warga ini secara tulus ingin memberikan dukungan bahwa mereka sangat menerima keberadaan tenaga kesehatan di lingkungan mereka. Mengingat Pusdiklat itu berada di wilayah Kelurahan Baciro.

Sejumlah poster yang dibawa lebih banyak berisi pujian kepada tenaga kesehatan yang menangani Covid-19. Antara lain bertuliskan Anda Adalah Pahlawanku, Pahlawan Covid-19 Kami di Belakangmu, Kami Warga Baciro Siap Menerima Pahlawan Covid-19. Tiga poster itu hanya sekian dari belasan poster yang dibawa warga. Bentuk poster ditulis tangan ala kadarnya menggunakan spidol pada kertas karton warna putih bersih. Karena jumlahnya sekitar 30 orang, warga yang didominasi pengurus RT, RW serta tokoh masyarakat dan pemuda itu tetap berusaha menjaga jarak sekitar satu meter.

Warga sengaja menyambut setelah mendapatkan informasi jadwal kedatangan para tenaga kesehatan di Pusdiklat tersebut. Sekitar pukul 14.15 WIB yang ditunggu warga, mulai datang. Para tenaga medis dan paramedis atau dokter serta perawat masuk ke kompleks balai itu menggunakan kendaraan roda empat dengan dikawal petugas kepolisian melalui pintu timur.

Sebuah mobil Avanza berpelat merah AB 1504 UH melaju di awal membawa tenaga medis, disusul Isuzu Panther pelat merah AB 1178 UH milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja kemudian sebuah mobil Grand Livina berpelat hitam berada di urutan berikutnya. Dua mobil di belakangnya lagi adalah ambulans Puskesmas Keliling Pemkot Jogja serta ambulans milik Dinas Kesehatan DIY.

Tenaga medis dan paramedis yang berada di dalam mobil pun melambaikan tangan kepada warga dalam posisi kaca mobil terbuka. Beberapa di antara mereka ada yang mengambil gambar menggunakan ponsel dari dalam mobil. Respons warga pun banyak yang berteriak memberikan dukungan hingga bertepuk tangan untuk kedatangan mereka.

“Semoga [pandemi Corona] ini cepat berlalu ya,” ucap seorang warga. “Amiin,” sahut seorang tenaga kesehatan yang berada di dalam kendaraan pribadi. Sebelum memasuki gedung tersebut, tenaga medis dan paramedis yang berjumlah delapan orang lebih dahulu diperiksa suhu badan menggunakan thermo gun, semuanya dalam keadaan normal. Kemudian menuju ke kamar yang sudah disediakan.

Warga tidak khawatir meski gedung tersebut dipakai isolasi untuk tenaga kesehatan yang secara langsung menangani Covid-19. Ada sekitar 25 hingga 30 kepala keluarga (KK) yang rumahnya berhimpitan langsung dengan kompleks tersebut terutama di sisi timur yang merupakan kompleks Brimob Polda DIY dan sisi barat permukiman warga. Mereka yang dekat berada di RW 10.

Dukungan itu diberikan karena warga merasa prihatin adanya warga di daerah lain yang menolak jenazah perawat yang menangani Covid-19 hingga tak mengizinkan pulang ke rumah. Warga berharap gerakan itu menjadi teladan bagi warga lainnya agar menempatkan para tenaga kesehatan yang memiliki jasa besar dalam penanganan pandemi ini. “Sebetulnya hari ini [kemarin] semua warga mau menyambut, tetapi kami batasi karena protokolnya tidak boleh berkerumun,” ujar Ketua RW 10 Baciro, Servasius Wue. “Bukan hari ini [kemarin] saja, kami akan memberikan dukungan pada hari-berikutnya dan sesuai batasan protokoler,” ucap Syarif Hidayat, Ketua Kampung Baciro menambahkan.

Air Mata
Selain warga, tampak Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi turut menyambut kedatangan para tenaga kesehatan tersebut. Saat memberikan keterangan lisan, Heroe tampak meneteskan air mata. Di awal kalimat, lisannya Heroe hanya kuasa mengungkap kata semenit saja, lalu terhenti sekitar 25 detik dengan digantikan oleh lelehan air mata dan sesengukan.

Suasana itu menjadi hening, awak media yang merekam pernyataan hanya bisa menahan alat perekam masing-masing. Seorang petugas kepolisian tampak memberikan bungkusan tisu untuk menyeka air mata Heroe. Sementara delapan tenaga medis yang berada di belakang Heroe juga tampak berkaca-kaca menyaksikan kondisi itu.

“Dari pagi masyarakat [Baciro] menelepon saya, mengatakan bahwa kami akan menyambut kedatangan para pejuang kemanusiaan yang ditunjukkan dengan poster yang dibuat sejak pagi,” ucap Heroe dengan sesengukan.

Heroe mengapresiasi dukungan warga di tengah adanya warga daerah lain yang menolak tenaga medis maupun paramedis yang menangani Covid-19. Tindakan warga Baciro ini bisa menjadi edukasi bagi warga lain di DIY maupun daerah lain. (sunartono@harianjogja.com)