Penyelenggara Kursus di DIY Bantu Atasi Pandemi Corona di Tengah Anjloknya Pendapatan

Pendistribusian APD oleh penyelenggara kursus dan pelatihan di DIY pada salah satu rumah sakit. - Ist/Hipki.
18 April 2020 14:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Himpunan Penyelenggara Kursus dan Pelatihan Seluruh Indonesia (HIPKI) DIY berusaha membantu mengatasi pandemi virus Corona penyebab Covid-19 dengan memberikan bantuan alat pelindung diri (APD) ke sejumlah rumah sakit. Pendapatan dari sebagian besar lembaga kursus di DIY ikut menurun drastis hingga mencapai 70% sejak pandemi panyakit mematikan itu.

Ketua DPD HIPKI DIY Anung Marganto menjelaskan saat ini menjadi situasi sulit bagi semua sektor akibat pandemi Covid-19 tak terkecuali sektor pendidikan nonformal seperti penyelenggara kursus dan pelatihan. Namun butuh bantuan semua pihak untuk secara bersama-sama mengatasi persoalan ini.

Oleh karena itu pihaknya bersama para penyelenggara kursus di DIY dalam hal ini HIPKI berusaha membantu penanganan Covid-19, salah satunya dengan penyediaan APD. Mengingat berdasarkan informasi seluruh rumah sakit rujukan butuh APD untuk menangani pasien Covid-19.

"Kami berkomitmen untuk ikut partisipasi berjuang memerangi Covid 19 ini dengan membantu APD, dalam hal ini masker N95 yang sangat dibutuhkan oleh tenaga medis maupun paramedis baik," ungkapnya Sabtu (18/4/2020).

Distribusi APD tersebut merupakan hasil penggalangan dari seluruh penyelenggara kursus di DIY. Salah satu pendistribusian APD dilakukan di RS rujukan Covid-19, dalam hal ini RSUD Wates Kulonprogo beberapa waktu lalu. Anung berharap lembaga maupun organisasi swasta lainnya ikut tergerak membantu mengatasi pandemi Covid-19.

"Kami juga berharap rekan-rekan maupun organisasi kemasyarakatan lain tergerak untuk bersama-sama bahu membahu perangi virus Corona [Covid-19] terutama APD yang dibutuhkan dengan sebelumnya konsultasi dengan rumah sakit yang dituju kebutuhan apa yang di perlukan," katanya.

Ia mengatakan penyelenggara kursus di DIY saat ini menjadi salah satu sektor yang terdampak. Apalagi harus menyesuaikan dengan sekolah formal, padahal sesuai edaran dari Disdikpora DIY bahwa saat ini semua sekolah mengikuti pembelajaran online dari rumah. "Jika beroperasi sangat terbatas. Jadi hanya kelas privat yang jalan," ujarnya.

Penurunan pendapatan penyelenggara kursus dan pelatihan pun terjun bebas sejak Maret hingga pertengahan April 2020 ini. Mengingat lembaga nonformal ini hanya mengandalkan dana dari peserta kursus.

"Dampaknya banyak yang harus menghentikan operasional, kondisinya seperti ini. Pendapatan juga rata-rata mengalami penurunan lebih dari 70 persen," katanya.