Ritual Malam Selasa dan Jumat Kliwon di Parangkusumo Ditutup Gegara Corona

Ilustrasi. - Ist/Freepik
20 April 2020 16:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Warga Desa Parangtritis dan pemerintah desa setempat menutup sementara akses masuk kawasan Puri Cepuri Parangkusumo yang biasa dijadikan tempat ritual bagi sebagian masyarakat yang mempercayainya setiap malam Selasan Kliwon dan Jumat Kliwon. Penutupan tersebut untuk menghindari penyebaran infeksi Coronavirus Disease atau Covid-19.

Kepala Dusun Mancingan, Handri Sarwoko mengatakan penutupan tempat ritual itu mulai dilakukan sejak malam Selasa Kliwon lalu. “Besok malam Jumat Kliwon juga akan ditutup lagi mulau pukul 18.00 WIB sampai dini hari,” kata Handri, saat dihubungi Senin (20/4/2020).

Handri mengatakan awalnya yang tutup adalah aktivitas hiburan malam di kawasan Parangkusumo. Namun tamu masih banyak berdatangan terutama pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon untuk ritual di sekitar Batu Cinta dalam bangunan Puri Cepuri, sehingga terjadi kerumunan di kawasan tersebut. Akhirnya masyarakat mencegahnya karena dikhawatirkan terjadi penularan infeksi Covid.

“Yang pada datang kami suruh pulang kembali,” kata dia.

Selain itu, warga juga masih menemukan adanya gerombolan orang di rumah kontrakan pekerja hiburan malam, meski tempat hiburan malamnya sudah tutup. Selama masa pandemi ini, kata Handri, warga memang tidak melakukan karantina wilayah kecuali hanya mengimbau dan menghalau jika ada kerumunan massa.

Sementara warga setempat baik warga asli maupun warga yang mengontrak dan indekos masih bebas keluar masuk kawasan Parangkusumo.

Kepala Desa Parangtritis, Topo mengatakan pihaknya bersama warga sudah maksimal untuk mencegah penyebaran Covid di desanya termasuk di kawasan Parangkusumo. Namun ia tidak bisa menutup total karena tidak siap menghidupi selama masa karantina. Pemerintah Desa, kata dia, mewacanakan untuk memulangkan para pekerja hibiran malam dari luar daerah.

“Bagaimana cara pemulangannya. Ini kami masih kooridinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pariwisata,” kata Topo. Ia mensinyalir masih ada sebagian pekerja hiburan malam yang menerima tamu diam-diam dan hal itu sulit ditindak karena mereka juga mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Sebelumnya, Ketua Paguyuban Pengelola Hiburan Malam Mancingan, Dedi Nugraha mengatakan sejak adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, semua tempat hiburan malam tutup total. Sebagian pengelola dan pekerjanya juga pulang kampung. Yang masih bertahan hanya sebagian kecil. Pekerja yang tidak pulang saat ini beralih pekerjaan mnejadi penjual makanan.