Dampak Pandemi, Usaha Sound System Mati Suri

Pengusaha persewaan sound system, Atang Wijiyanto hanya membersihkan peralatannya di gudang pada Senin (27/4/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
29 April 2020 11:27 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid - 19) menyebabkan berbagai perhelatan dan hajatan terpaksa ditunda. Dampak paling kentara dirasakan pengusaha persewaan sound system, tak ada perhelatan membuat perangkat sound system hanya teronggok di gudang.

Nasib salah satu pemilik usaha persewaan sound system, Atang Wijiyanto seketika berbalik saat pandemi merebak. Setidaknya 10 acara yang menyewa sounds system miliknya dibatalkan. "Kan tidak boleh ada kerumunan, akhirnya banyak event dibatalkan," ujar Atang pada Senin (27/4/2020).

Sudah hampir dua bulan Atang peralatan sound systems miliknya tidak tersentuh. Hanya sesekali saja beberapa mikrofon, mixer, salon, dilap Atang menggunakan serbet dan kemoceng. "Supaya tidak rusak ya sesekali dibersihkan sama dinyalakan, sejauh ini usaha itu yang bisa dilakukan agar tidak rusak," ucapnya.

Setelah hanya mengandalkan tabungannya beberapa pekan, Atang banting setir jualan bawang untuk bertahan hidup sehari-hari. "Ya sekitar sepekan jualan bawang, barangnya pinjam kalau laku saya setor," jelas Atang.

Memasuki bulan Ramadan Atang ganti komoditi. Jualan bawangnya distop, Atang ganti dengan berjualan semangka. "Dari awalnya cuma pinjam sekarang bisa kulakan semangka sendiri," ucapnya. Atang hanya melihat pasar sebagai perpindahan komoditi jualannya. "Kalau Ramadan kan banyak yang cari semangka," jelasnya.

Berbekal mobil pick up yang Atang gunakan sehari-hari mengangkut sounds system, Atang keliling menjual semangka dari kampung ke kampung. Tidak ada rute pasti lintasan jualan Atang, mangkalnya pun tak tentu. Atang masih mengandalkan jualan semangka via daring yang menjadi pemasukan utamanya, hasil penjualan keliling jauh lebih rendah dibandingkan via online.

"Selama empat hari jualan semangka sudah habis sekitar dua ton, ya lumayan meski keuntungannya jauh dibandingkan kalau sewa sound system," ucapnya.

Salah satu pembeli semangka milik Atang, Mia Varhana mengaku hampir tiap hari membeli semangka di tempat Atang. Mia mengaku tak pernah kecewa atas semangka yang dia beli. Pasalnya Atang berani memberi garansi kepada pembeli bila semangka dagangannya daging buahnya putih maka pelanggan akan mendapat ganti semangka yang baru. "Semangkanya ukurannya besar, bijinya sedikit, berani garansi, hitungannya murah lah untuk harga Rp5.000 per kilo," ucap Mia.

Berjualan memang baru pertama Atang lakukan. Tapi Atang tak punya pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari enam pegawai yang bekerja di tempatnya, beberapa ada yang ikut berjualan semangka dengan menjadi reseller di tempat Atang. "Gimana lagi, bagi pengusaha sound system ini seperti mati suri, dilakoni saja dulu yang penting bisa menyambung hidup sehari-hari dulu saja," ucapnya.

Meski demikian, Atang mengaku hanya akan menjual peralatan sound system miliknya sebagai opsi terakhir. "Sound system kan aset, sayang sekali kalau dijual," ujar Atang.