Permintaan Kopi Merapi Anjlok

Sumijo saat melakukan panen kopi merapi di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Selasa (5/5/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
06 Mei 2020 03:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Petani kopi Merapi terpaksa harus menelan pil pahit. Pasalnya, permintaan kopi yang ditanam di sekitar lereng Gunung Merapi anjlok sekitar 90% di tengah pandemi Covid-19.

Salah satu petani kopi Merapi di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman Sumijo mengatakan jika banyaknya kedai kopi yang tutup di tengah pandemi juga menjadi musabab anjloknya permintaan kopi Merapi.

"Kendalanya di tengah pandemi Covid-19 banyak kedai kopi yang tutup. Alhasil, permintaan kopi juga menurun drastis. Permintaan per bulan sebelum ada pandemi Covid-19 rerata sebanyak 300 kilogram. Setelah adanya pandemi Covid-19 permintaan hanya 10 persen [30kg]. Terjadi penurunan mencapai 90 persen," ujar Sumijo, Selasa (5/5/2020).

Lebih lanjut, berdasarkan penuturan dari Sumijo, jika rata-rata perbulan ia dan jawatannya bisa mendistribusikan 300 kilogram biji kopi ke sejumlah produsen dan kini hanya ada 10% permintaan biji kopi, maka petani kopi merapi hanya mampu mendistribusikan sebanyak 30kg biji kopi per bulannya.

Kondisi tersebut diperparah dengan tutupnya warung Kopi Merapi yang ada di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Hal itu juga menjadi pukulan telak bagi Sumijo dan petani kopi Merapi lainnya. Pasalnya, warung Kopi Merapi menjadi produsen utama kopi Merapi. Sebagian besar hasil panen biji kopi Sumijo dan kawan-kawannya dijual ke warung Kopi Merapi itu. 

"Warung Kopi Merapi sementara paling banyak order dan kebetulan diminta untuk tutup oleh pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten. Sudah ada aturannya. Jadi, sangat berpengaruh terhadap permintaan atau penjualan produk kopi merapi," jelasnya.

Dalam waktu dekat ini Sumijo dan petani kopi merapi lainnya akan melalui masa panen biji kopi Merapi yang masuk kategori arabika. Namun, ia memperkirakan bakal ada penurunan angka panen kopi merapi di tengah pandemi Covid-19 ini.

Hasil panen akan ditampung oleh Koperasi Kebun Makmur yang diketuai oleh Sumijo. Panen kopi merapi berasal dari semua sisi lereng Merapi. Baik dari sisi selatan di kabupaten Sleman, sisi utara di kabupaten Boyolali, dan sisi timur di kabupaten Klaten.

"Perkiraan panen gelondong merah atau red cherry tahun ini sekitar 30 ton. Dari jumlah tersebut akan menjadi green bean dan jadinya hanya sekitar lima ton. Kalau nanti kopi arabika bisa tertampung dari semua wilayah bisa mencapai angka 60 ton red cherry yang nantinya akan jadi green bean sekitar 10 ton. Sepertinya ada penurunan angka panen dari tahun lalu," ungkap Sumijo.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan meskipun di tengah merebaknya pandemi Covid-19, kegiatan pertanian di kabupaten Sleman tetap akan berlangsung demi mewujudkan ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Sleman.

“Memang saat ini kita sedang perang melawan Covid-19 dan ada anjuran untuk tetap di rumah, namun untuk kegiatan menanam padi tetap perlu dilakukan langsung [turun ke sawah]. Dan yang paling penting tetap memperhatikan aspek pencegahan Covid-19 diantaranya menjaga jarak dan memakai masker,” jelasnya.

Menurut Sri Muslimatun, dengan melakukan langkah-langkah pencegahan yaitu memakai masker dan menjaga jarak, kegiatan menanam padi tetap dapat dilakukan oleh petani di ladangnya.

“Jadi, meskipun kita itu sedang perang melawan Covid-19, waktunya panen tetap panen, waktunya menanam tetap menanam. Nandur sing dipangan, mangan sing ditandur,” katanya.

Sri Muslimatun menilai bahwa para petani yang melakukan kegiatan pertanian telah memahami langkah-langkah dalam pencegahan Covid-19, sehingga tampak sejumlah petani yang berkegiatan di ladang sudah menggunakan masker dan menjaga jarak. "Bahkan dilakukan pembagian waktu sehingga meminimalisir terjadinya kerumunan," tutupnya.