Volume Sampah Rumah Tangga Gunungkidul Meningkat

Puluhan truk pengangkut sampah mengantre untuk menurunkan muatan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Rabu (8/1/2020 - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
06 Mei 2020 12:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Seiring diberlakukannya kebijakan work from home (WFH) untuk pegawai negeri sipil dan belajar dari rumah (BDR) untuk seluruh pelajar di Gunungkidul, volume sampah rumah tangga meningkat signifikan.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Aris Suryanto, mengungkapkan peningkatan volume sampah selama WFH ini cukup tinggi dari hari biasanya. Sampah-sampah yang mendominasi yakni sampah rumah tangga, fasilitas kesehatan hingga sampah dari pasar. "Peningkatan volume sampah di Gunungkidul sejak penerapan WFH sangat signifikan," kata Aris kepada Harian Jogja, Selasa (5/5/2020).

Ia menuturkan rata-rata peningkatan sampah di Gunungkidul sejak WFH mencapai 20%. Namun, peningkatan tersebut tidak terjadi di semua objek penghasil sampah. Peningkatan sampah terbesar selama masa pandemi Corona ini berasal dari rumah tangga. "Hanya sampah rumah tangga yang meningkat, untuk sampah di objek wisata jauh menurun karena sudah lama tutup," katanya.

Aris memastikan semua sampah yang dihasilkan dari rumah tangga dan sekitarnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Aampah (TPAS) Wukirsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Meski demikian, ada sebagian sampah yang diolah secara mandiri seperti bank sampah hingga unit pengolahan sampah (UPS). "Tidak semua sampah langsung dibuang ke TPAS, ada yang dimanfaatkan melalui bank sampah, sehingga yang dibuang hanya residu saja," ujarnya.

Dengan adanya peningkatan sampah selama WFH ini, Aris mengimbau kepada masyarakat Gunungkidul untuk bijak dalam mengolah sampah dengan melakukan pemilahan langsung dari sumbernya sebelum dibuang dan diangkut oleh petugas kebersihan.