Puslatpur Paliyan Jadi Alternatif Tempat Isolasi Massal

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
13 Mei 2020 20:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul menyiapkan lokasi baru untuk karantina massal bagi pasien reaktif Covid-19. Penyediaan tempat isolasi baru ini sebagai langkah antisipasi pelaksanaan rapid test massal yang melibatkan sekitar 2.000 orang.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, mengatakan mulai Selasa (12/5) Pemkab melakukan tes massal terhadap 2.000 warga yang berpotensi tertular virus Corona. Antisipasi dari pelaksanaan tes ini juga dilakukan pencarian lokasi baru untuk karantina.

Saat ini Pemkab sudah menyiapkan Rumah Sakit (RS) Saptosari sebagai tempat isolasi. Hanya, dengan adanya pelaksanaan rapid test massal, maka berpotensi menambah jumlah warga yang reaktif tes Corona. Hal inilah yang harus diantisipasi sehingga potensi penyebaran bisa ditekan sejak awal. “Kapasitas di RS Saptosari terbatas. Jadi harus ada lokasi karantina lain sehingga warga yang reaktif Corona tetap bisa ditampung,” kata Kelik kepada wartawan, Rabu (13/5/2020).

Dia menjelaskan pencarian lokasi alternatif karantina sudah dilakukan sejak beberapa hari lalu. Awalnya, lokasi yang dipilih yakni gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Gunungkidul di Desa Logandeng, Kecamatan Playen. Namun pemilihan lokasi ini mendapatkan penolakan warga sekitar sehingga Pemkab mencari tempat lain. “Setelah melalui koordinasi internal di Gugus Tugas, maka dipilih Pusat Latihan Tempur [Puslatpur] Paliyan sebagai lokas karantina alternatif selain di RS Saptosari,” katanya.

Pemilihan Puslatpur ini juga sudah dikoordinasikan dengan Kodam IV Diponegoro selaku pemilik. “Kami mendapat lampu hijau untuk menggunakan Puslatpur. Teknisnya nanti kalau RS Saptosari penuh maka lokasi karantina diarahkan ke Puslatpur Paliyan,” kata mantan Sekretaris Camat Rongkop ini.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Menurut dia, lokasi karantina massal tetap di RS Saptosari. Namun demikian, harus ada lokasi alternatif untuk mengantisipasi membeludaknya pasien reaktif Covid-19.

Menurut Dewi, pemberian fasilitas karantina massal dilakukan karena tidak semua warga bisa melakukan karantina secara mandiri. Hal itu erat kaitannya dengan kondisi di lingkungan rumah sehingga diputuskan adanya karantina bersama. “Sebenarnya bisa karantina mandiri dengan catatan menyediakan ruangan khusus hingga alat makan minum dan mandi secara sendiri. Tetapi kalau itu tak bisa disediakan di rumah, maka harus ikut karantina massal,” katanya.