Pemerintah Pusat Buka Sejumlah Objek Wisata di DIY Mulai Juni, Ini Langkah Pemda

Petugas menyemprotkan disinfektan di kawasan Ratu Boko Prambanan. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
19 Mei 2020 21:47 WIB Lugas Subarkah & Jumali Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaku usaha wisata dan Pemerintah Pusat segera membuka destinasi wisata di DIY. Namun, Pemda DIY tak ingin buru-buru dan masih menunggu dinamika penyebaran Covid-19.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, menuturkan mulai beroperasinya Candi Prambanan di Sleman sebagai bagian dari destinasi PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (TWC) merupakan salah satu langkah pemulihan pariwisata yang dilakukan Kementerian BUMN.

“Menteri BUMN, Eric Tohir, menyampaikan lima langkah masa recovery, salah satunya TWC yang berada di bawah BUMN akan dibuka pada 8 Juni mendatang,” ujar dia, Selasa (19/5/2020).

Dengan rencana tersebut, TWC saat ini sedang menyiapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19. Sementara Kementerian Pariwisata, kata dia, baru akan membuka destinasi di Bali, Jogja dan Kepulauan Riau secara bertahap pada Oktober mendatang.

Dinas Pariwisata dalam waktu dekat belum akan membuka destinasi di bawah Pemda DIY. “Kami masih mempersiapkan sarana fisik dan nonfisik seperti sumber daya manusia, protokol kesehatan dan lainnya. Jangan sampai dibukanya destinasi malah meningkatkan persebaran Covid-19 karena belum benar-benar siap,” kata dia.

Ia belum memastikan kapan destinasi wisata di bawah Pemda DIY akan dibuka kembali karena tergantung  rekomendasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY. “Kalau dibuka pasti bertahap, mana yang siap dulu,” kata dia.

Objek wisata di Bantul juga dipastikan tidak akan bisa dibuka dalam waktu dekat.

Kepala Dinas Pariwisata  Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, meski saat ini pelaku wisata, utamanya perhotelah mulai menyiapkan diri menghadapi situasi new normal dan berencana beroperasi pada bulan depan, hal tersebut tidak serta merta diikuti dengan pembukaan kembali sejumlah objek wisata di Bantul.

“Kami berharap nantinya ada kekompakan dalam hal pembukaan objek wisata. Jangan sampai yang satu dibuka, yang lain belum. Kami juga harus menyesuaikan dengan kebijakan lokal,” kata dia.

Menurut dia, kebijakan lokal yang dimaksud adalah kewenangan untuk membuka kembali sejumlah objek wisata ada di tangan masing-masing bupati dan wali kota.

Menurut dia, kemungkinan besar objek wisata di Bantul belum bisa dibuka pada Juni mendatang. Sebab, saat ini, Bantul sedang dihadapkan pada peningkatan kasus Covid-19 yang menunjukkan kurva menuju puncak.

“Kami juga harus koordinasi dengan pelaku kesehatan. Bisa jadi Juli juga belum bisa. Oleh karena itu, kami harus hati-hati,” ujar dia.

Meski demikian, Dinas Pariwisata Bantul siap jika ada kebijakan yang meminta agar objek wisata dibuka pada Juni mendatang. Setidaknya dibutuhkan waktu sepekan bagi jawatannya untuk berkoordinasi dengan para pelaku wisata dalam penerapan protokol kesehatan di objek wisata untuk menghadapi situasi new normal, salah satunya adalah penempatan tempat cuci tangan dan penerapan jaga jarak.  

“Namun, kami tetap akan melihat perkembangan yang ada dulu. Apakah situasi tanggap darurat Covid-19 hingga 29 Mei ini akan dilanjutkan atau tidak,” ucap dia.

Dibuka Juni

Sementara, 20 hotel di DIY bakal mulai beroperasi. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan ada sekitar 20 hotel baik dari nonbintang hingga bintang tiga yang akan buka pada Juni. Ditambah hotel yang masih buka ada sekitar 25 hotel, sehingga total 45 hotel yang beroperasi di DIY.

Deddy mengungkapkan saat ini hotel tengah mempersiapkan sarana prasarana dan memberikan penjelasan ke sumber daya manusia (SDM) dalam melayani tamu sesuai protokol pencegahan Covid-19. “Mungkin tidak lazim atau asing, tetapi harus dilakukan upaya-upaya pencegahan Covid-19 ini. Mengikuti peradaban yang baru, SOP harus mengikuti,” ujar Deddy, Senin (18/5/2020).

Dia menegaskan untuk hotel yang akan beroperasi harus memastikan standar pencegahan Covid-19, seperti penyediaan tempat cuci tangan, penggunaan masker, jaga jarak, upaya menjaga kebersihan, dan lain sebagainya. Jika memang tidak bisa disarankan agar tidak membuka dahulu aktivitas hotel, karena menyangkut kesehatan dan keselamatan setiap pengunjung maupun pekerja hotel sendiri. 

Rencana senada disampaikan Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie. Ia mengatakan untuk menyambut new normal, pelaku wisata pada bidang perjalanan wisata saat ini tengah menyusun standar prosedur operasional pelayanan operasional dalam handling tamu.

“Asita juga sedang mendata seluruh anggotanya, sehingga kami tahu persis kondisi dari seluruh member Asita agar kita bisa persiapkan bersama menghadapi new normal. Nantinya pasti sesuai dengan protokol kesehatan, safety, hygine, dan healthy. Termasuk pembatasan jumlah orang di dalam transport,” ujar Bobby.

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero), Edy Setijono, menyatakan akan membuka kembali operasional destinasi tersebut pada Juni. Operasional baik di Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, tetap menerapkan protokol Covid-19.

"Saat ini kami lakukan berbagai persiapan mulai perbaikan hingga peningkatan standar kualitas pelayanan. Kami siap menjalankan pariwisata yang bersih, sehat, dan aman bagi pengunjung," kata Edy.

Menurut Edy, operasional pelayanan pariwisata tersebut sesuai dengan arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). New normal pariwisata yang dilakukan TWC, katanya, juga mewajibkan seluruh wisatawan menggunakan masker dan menerapkan physical distancing. "Jadi yang tidak menggunakan masker kami tolak untuk masuk," kata Edy.