Sultan Agung Sepi Bakul Ketupat

Wiro, salah satu penjual selongsong ketupat di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Gondomanan bertahan tetap berjualan meski di masa pandemi Covid-10, Jumat (22/5/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
22 Mei 2020 22:27 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan Jalan Sultan Agung, Kecamatan Gondomanan merupakan salah satu wilayah yang cukup ramai dipenuhi pedagang selongsong ketupat di masa menjelang Lebaran. Namun, Lebaran kali ini kawasan itu sepi pedagang selongsong ketupat.

Salah satu yang membuka dagangan di Jalan Sultan Agung yakni Wiro, 45, warga Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul. Sejak pagi hari pukul 08.00 WIB, Jumat (22/5/2020), Wiro sudah menggelar lapaknya.

Namun, sampai kemarin siang, dirinya tak menemukan penjual lain yang berada di kawasan tersebut, sebagaimana Lebaran tahun lalu. “Hanya ada beberapa pedagang saja yang menggelar lapaknya di trotoar jalan,” ungkap Wiro, kemarin.

Dia menduga sepinya pedagang karena banyak yang mengikuti anjuran pemerintah terkait dengan jaga jarak sosial dan fisik untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19. “Mungkin masih tidak mau keluar karena anjuran pemerintah kan di suruh dirumah,” kata Wiro.

Saat disinggung alasan dirinya memilih berjualan ketimbang mengikuti rekan pedagang lainnya untuk berdiam diri di rumah, Wiro beralasan ekonomi. Ia mengungkapkan jika dirinya tidak berjualan, dia tidak memiliki pendapatan untuk bertahan hidup. Terpenting, dirinya tetap menjaga kesehatan dan kebersihan serta mengenakan masker.

Pedagang lainnya, Anggi, 34, mengungkapkan hal yang sama. Ia menjelaskan momentum jelang hari raya dimanfaatkannya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah lewat selongsong ketupat. Mengingat tak banyak pedagang yang membuka lapaknya, otomatis akan mengalami peningkatan penjualan.

“Dari pagi sudah jual 600-an biji selongsong ketupat. Tahun-tahun sebelumnya bahkan tidak sampai 600,” paparnya. Bahkan, sejak dari rumah, dirinya sudah mulai mencicil merajut selongsong ketupat.

Kali ini, setiap ikat yang berisi 10 selongsong ketupat dihargai Rp15.000 sedangkan tahun lalu hanya berkisar Rp10.000 per ikat.