Advertisement

BPPTKG Larang Aktivitas di Sungai Merapi Seusai Banjir Lahar Maut

Catur Dwi Janati
Kamis, 05 Maret 2026 - 17:37 WIB
Sunartono
BPPTKG Larang Aktivitas di Sungai Merapi Seusai Banjir Lahar Maut Kawasan Wisata Gardu Pandang Merapi / Antara

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengeluarkan instruksi tegas untuk menghentikan seluruh aktivitas di sepanjang alur sungai Gunung Merapi saat hujan mengguyur kawasan puncak.

Langkah darurat ini diambil menyusul tragedi banjir lahar hujan yang menelan korban jiwa dan menghanyutkan belasan armada truk di beberapa titik aliran sungai pada Selasa lalu.

Advertisement

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem dengan intensitas hujan mencapai ±144 mm telah mengguyur puncak Merapi selama empat jam nonstop. Angka tersebut tercatat jauh melampaui ambang batas aman, sehingga memicu luncuran material vulkanik cair yang menerjang Sungai Gendol, Sungai Apu, Sungai Trising, Sungai Senowo, hingga Sungai Pabelan.

"Sistem pemantauan curah hujan Gunung Merapi secara otomatis mengirimkan informasi kejadian hujan serta peringatan dini bahaya lahar dan awan panas kepada masyarakat dan para penambang mulai pukul 15.15 WIB," terang Agus, Rabu (4/3/2026).

Dampak dari terjangan lahar dingin ini sangat fatal, di mana data dari BPBD Kabupaten Magelang mengonfirmasi adanya tiga orang meninggal dunia dan enam orang mengalami luka-luka.

Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif terhadap dua orang yang dinyatakan hilang, sementara kerugian materiil mencakup 15 unit truk penambang yang hanyut terseret arus.

Tim Badan Geologi-BPPTKG kini telah terjun ke lapangan untuk memberikan pendampingan teknis serta berkoordinasi dengan pemangku kepentingan dalam percepatan penanganan dampak bencana.

Operasi penyisiran di bantaran Sungai Senowo dan Sungai Apu terus diperluas guna menemukan sisa korban yang belum teridentifikasi pasca-temuan satu jenazah pada hari pertama evakuasi.

Sebagai upaya mitigasi ke depan, BPPTKG merilis rekomendasi utama bagi masyarakat dan penambang agar segera menepi dari alur sungai jika awan mendung mulai menyelimuti puncak Merapi.

Pemerintah daerah juga diminta untuk lebih masif dalam menyosialisasikan peta bahaya banjir lahar serta terus memantau fluktuasi kondisi sungai-sungai yang berhulu di gunung aktif tersebut.

"Para penambang dan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di dalam alur sungai saat terjadi hujan intensitas tinggi di kawasan Merapi," tegasnya.

Agus menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap angka curah hujan, di mana kewaspadaan harus sudah ditingkatkan sejak hujan mencapai 10 mm dalam durasi satu jam.

Secara teknis, banjir lahar biasanya mulai terjadi saat curah hujan menyentuh angka 40 mm per jam, sehingga pemantauan data real-time dari BPPTKG menjadi kunci keselamatan bagi warga di zona bahaya.

Masyarakat diharapkan tidak lengah dan selalu mengikuti arahan petugas lapangan karena dinamika cuaca di lereng Merapi masih berpotensi memicu kejadian serupa.

Koordinasi antara sistem peringatan dini otomatis dan respons cepat warga di bantaran sungai menjadi satu-satunya cara efektif untuk menghindari bertambahnya korban jiwa di masa mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Menkes Budi Gunadi Sadikin Desak Imunisasi Campak Jelang Lebaran

Menkes Budi Gunadi Sadikin Desak Imunisasi Campak Jelang Lebaran

News
| Kamis, 05 Maret 2026, 18:37 WIB

Advertisement

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Wisata
| Minggu, 01 Maret 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement