PT PRIMISSIMA: BUMN Sandang yang Melegenda Hingga Manca Itu Mungkin Bakal Tinggal Nama

Gedung kantor Primissima tampak depan.-Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
22 Mei 2020 03:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

PT Primissima, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi tekstil halus sempat berjaya pada era 1980-an. Perusahaan ini mampu mengangkat banyak derajat ekonomi ratusan karyawannya dan mengekspor kain berkualitas tinggi ke beberapa negara. Namun masalah modal kerja baru yang diperparah dampak Pandemi Covid-19 membuat perusahaan ini terancam runtuh. Nasib pekerja pun dipertaruhkan. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Hari masih pagi, aktivitas tampak lengang di sekitar kantor PT Primissima di Jalan Magelang, Triharjo, Sleman. Hanya ada segelintir karyawan berseragam kemeja putih dan celana kain cokelat muda yang keluar masuk lobi kantor sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi tekstil halus itu.

Nuansa bangunan perkantoran Indonesia tera 1970-an masih lekat di gedung itu. Selain langit-langitnya yang tinggi, di kanan dan kiri lobi kantor, terpajang displai busana batik yang sudah usang di dalam sebuah etalase kaca raksasa. Humas PT Primissima, Ruswadi muncul dari lorong di samping etalase kaca itu dan duduk di sebuah sofa berwarna merah pudar yang sudah usang ketika menyambut Harian Jogja datang berkunjung.

Sofa itu terletak dekat dengan dinding yang menjulang tinggi. Di ujung dinding itu terpasang huruf-huruf dari logam berwarna keemasan berbunyi PT Primissima. Sambil melongok ke atas, mata Ruswadi berbinar, ada raut kebanggaan dari wajahnya ketika melihat huruf-huruf yang menurutnya megah itu. Dia mengingat kejayaan PT Primissima puluhan tahun lalu, tepatnya pada 1971 hingga 1990-an.

“Dulu bekerja di sini bisa dibilang makmur, bangga. Saya sudah 30 tahunan kerja di sini, saya pernah mengalami 15 kali menerima gaji dalam satu tahun. Pokoknya derajat karyawan sini naik dan bergengsi. Saat tahun 1980-an, perusahaan ini memang jaya sekali dan dipercaya oleh banyak pihak untuk memproduksi kain primisima,” kata Ruswadi sambil melirik kain batik yang didisplai di etalase kaca.

Primisima adalah kain mori super halus yang biasa digunakan untuk membuat pakaian berkualitas tinggi. Kain ini paling banyak digunakan untuk membuat batik tulis. Jika berbicara soal kampung para pembatik, warga Jogja tentu tidak asing dengan Sentra Kerajinan Batik Tulis Giriloyo di Wukirsari, Imogiri, Bantul. Di sana, tangan-tangan pengrajin dengan cermat membatik di atas selembar kain primisima.

Satu goresan malam dari canting-canting mereka terserap dengan baik di atas kain itu, membuat warna yang dihasilkan tegas dan jelas. Bahkan kain primisima dapat menyerap pewarna alam dengan sangat baik, sehingga warna alam pun dapat terlihat tajam. Kain batik yang dihasilkan pun semakin mentereng dan memiliki nilai jual tinggi.

Sampai Amerika Serikat

PT Primissima rutin memasok kain primisima kepada para pengrajin batik di Giriloyo. Sembilan sentra pengrajin besar di Solo dan juga para pengrajin di Pekalongan pun selalu menggunakan kain primisima.  Tak hanya itu, ekspor kain primisima di Jepang, Amerika Serikat dan Timur Tengah pun sangat masif pada era 1980 hingga 1990-an.

“Saking bagusnya, banyak sekali yang memalsukan kain primisima milik kami, di pasar-pasar banyak kok dijumpai. Akan tetapi, pengrajin di Giriloyo itu sangat bergantung dengan produksi kain primisima di sini, mereka tidak mau membatik menggunakan kain apapun selain primisima milik kami. Bahkan hingga saat ini,” kata Ruswadi.

Ruswadi menambahkan PT Primissima memiliki empat produk kain utama, yaitu kain primis dengan nama Voilissima, Kereta Kencana, Gamelan Serimpi dan Berkolissima. Semua kain itu merupakan kain berkualitas tinggi yang dikhususkan untuk produksi batik halus dalam negeri. Produksi pada 1980 sangat masif ke negara-negara maju.

Seiring berjalannya waktu, kejayaan PT Primissima mulai meredup. Ekuitas atau hak pemilik atas aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih (jumlah aktiva dikurangi kewajiban) defisit. Belum lagi akumulasi rugi dan utang pajak yang jumlahnya mencapai puluhan miliar. Para pemangku kebijakan membaca dan memetakan masalah bahwa PT Primissima memiliki dua masalah pokok penyebab macetnya roda produksi, yaitu adanya kesalahan manajemen dan kurangnya modal kerja.

Pada 2000-an, Usmansyah selaku Direktur Utama PT Primissima masih menjabat sebagai Komisaris. Dia menjadi saksi terbitnya PP No.37/2013 tentang Penjualan Saham Milik Negara Republik Indonesia pada PT Primissima sebagai solusi atas permasalahan di PT Primissima.

PT Primissima didirikan sebagai perusahaan patungan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Dengan terbitnya PP tersebut, pemerintah bermaksud menjual saham kepada partner strategis yaitu Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). “Akan tetapi penawaran dari GKBI tidak pernah bagus, harganya terlalu rendah. Maka penjualan itu tidak jadi terus,” kata Usmansyah.

Usmansyah telah mencoba menemui Sri Sultan HB X untuk menawarkan saham kepada Pemda DIY. Dari pertemuan selama empat jam itu, kesimpulanya, Sri Sultan HB X itu hanya ingin membeli saham GKBI. Artinya, hanya ingin ada kerja sama dengan pemerintah pusat. Namun setelah penawaran Pemda DIY dimasukkan ke GKBI, tidak terjadi kesepakatan harga yang diharapkan.

Mesin Menganggur

November 2016, Usmansyah ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Primissima. Modal kerja langsung diperbaiki guna menghadapi defisit hingga Rp17 miliar. Saat itu modal kerja hanya mengandalkan SKBDN dari perbankan yang terbatas dan pinjaman-pinjaman dari pihak swasta dengan bunga di atas bunga bank. Akibatnya produksi tidak maksimal karena pasokan bahan baku sangat minim, bahkan kala itu Primissima tak memiliki benang sendiri untuk memproduksi kain. Mesin-mesin pun banyak yang menganggur, tidak mampu bekerja dengan optimal.

PT Primissima akhirnya mampu bertahan selama beberapa tahun karena mendapat pinjaman dari dua perusahaan BUMN lainnya yang dijamin oleh Jamkrindo. Melalui pinjaman itu, PT Primissima mendapat pinjaman skema trading dan pembiayaan dengan masing-masing pagu Rp40 miliar dalam satu tahun.

“Harusnya cukup? Iya, seharusnya. Tiga tahun pertama kami masih laba, akan tetapi labanya semakin kecil karena efisiensi mesin lama itu sangat rendah. Saat itu kami masih pakai mesin keluaran tahun 1971, paling baru keluaran tahun 1994,” kata Usmansyah.

Pada 2016 PT Primissima diuntungkan dengan kebijakan tax amnesty sehingga mampu mencapai laba bersih Rp12 miliar per bulan. Keuntungan itu terus merosot menjadi Rp 1,3 Miliar di tahun 2017 dan Rp1,03 Miliar di tahun 2018. Produktivitas mesin lama tidak sanggup mengejar target produksi.

Di saat bersamaan, PT Primissima sudah meminjam uang kepada dua perusahaan BUMN dan harus menanggung biaya bunga. Belum lagi PT Primissima masih harus membayar biaya bunga per bulannya sebesar Rp200 juta hingga 250 juta kepada Bank Mandiri. Biaya itu ada karena warisan hutang sebesar Rp40 miliar yang sudah ada sejak 2003. Biaya-biaya ini terus menggerogoti laba PT Primissima per bulannya yang sudah terhambat oleh efisiensi mesin-mesin tua.

Oleh karena itu demi meningkatan efisiensi mesin dan produktivitas, PT Primissima membeli empat mesin Itema Italia dan empat mesin Tsudakoma Jepang dengan kapasitas produksi 800 hingga 900 meter per hari, artinya tiga kali lipat dibanding mesin lama. Sebanyak delapan mesin baru itu setara dengan kapasitas produksi 12 mesin lama. “Saat itu pasar juga kondusif, mereka serap semua produk yang dihasilkan. Itu masa-masa di mana kami sangat berharap,” ujar Usmansyah dengan tatapan menerawang.

Kejadian-kejadian sejak Maret 2019 bak martir yang memukul dan menghancurkan semua usaha PT Primissima yang berusaha mengembalikan kejayaannya. Saat itu ada pemilu dan pilkada yang menurut Usmansyah memengaruhi kondisi psikologis buyer luar negeri. Mereka tidak berani membeli dengan kuantitas tinggi, di saat yang sama momen Ramadan dan Idulfitri pun tiba, semakin jarang pembeli yang memesan kain primisima. Cashflow pun hancur dihantam momen.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Di saat yang sama, beberapa pinjaman pun jatuh tempo. Pinjaman modal PT Primissima diblokir oleh Jamkrindo karena dianggap wanprestasi. Menurut Usmansyah, keadaan perusahaan saat itu sudah kritis. “Kami hanya bekerja dengan sisa pinjaman yang ada di mesin dan di pasar. Kalau tidak mendapat pinjaman baru? Tinggal menunggu waktu runtuh,” tegas Usmansyah.

Direksi dan komisari sudah berusaha sekuat tenaga untuk "menghidupkan" Primissima. Namun, saat ini PT Primissima hanya bekerja berdasar pesanan atau Work Order (WO), atau menggarap benang milik beberapa pihak menjadi kain. Sejak April, perusahaan ini berhenti produksi sendiri dan secara full mengerjakan WO karena kekurangan modal kerja. Hal ini tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang sudah mulai masif merebak sejak Maret 2020.

“April hanya ada tiga WO yang kami terima, biasanya enam hingga tujuh. Itu saja tidak maksimal karena mereka terhambat transportasi dan SDM. Akhirnya beberapa mesin kami matikan, yang jalan maksimal hanya tiga,” kata Usmansyah.

Implikasinya menurut Usmansyah sungguh tak main-main. Penghasilan turun drastis. Omzet normal PT Primissima saat memiliki benang sendiri bisa mencapai Rp11 miliar hingga Rp14 miliar. Dengan sepenuhnya WO, omzetnya hanya Rp6,5 miliar. Akibat pandemi, omzet WO perusahaan anjlok menjadi Rp2,5 miliar per bulan. Diakui Usmansyah, omzet itu tidak cukup menutup semua biaya operasional.

“Sehingga kami mencoba melakukan langkah efisiensi di tengah Covid-19, terpaksa harus PHK karyawan. Tadinya ada 719 sekarang hanya 594. Kami terpaksa PHK yang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu [PKWT],” Usmansyah berujar lesu. Mengaku terbayang wajah-wajah karyawan yang harus menerima PHK.

Nasib Ratusan Karyawan

PT Primissima tetap pada komitmen bahwa perusahaan akan merekrut mereka kembali begitu keadaan normal. Namun ternyata Mei keadaan semakin memburuk. Kini PT Primissima pun sudah tak sanggup menanggung semua pegawai tetap. Perusahaan pun berencana merumahkan beberapa pegawai tetap dengan tetap memberi hak mereka.

Pabrik berisi mesin-mesin yang bergerak cepat memproduksi kain-kain primisima kini hanya sebagian yang hidup. Pabrik yang nyaring bunyi mesin itu kini hanya diisi oleh segelintir karyawan pabrik. Sistem shift pun diberlakukan. Di tengah pandemi, perusahaan yang sudah terseok-seok ini masih berharap bisa mempertahankan ratusan karyawan dengan berbagai cara.

“Sampai 30 juni ada beberapa yang dirumahkan, yaitu mereka yang tidak terkait produksi. Juli harapannya [Covid-19] sudah normal. Minimal Covid agak mereda, WO bisa kirim lagi agak banyak. Kalau kami dapat Rp6,5 miliar sebulan itu nanti sebagian pegawai bisa masuk kerja lagi,” kata Usmansyah.

Usmansyah mengaku sudah bersurat dengan Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin dan dipertemukan dengan pihak Bank Mandiri untuk mengatasi permasalahan bunga pinjaman. Melalui mediasi itu, hutang PT Primissima direstrukturisasi dengan penurunan tingkat bunga dari 10,5 persen menjadi 6,5 persen dan hanya tiga persen untuk keringanan pandemi. Namun utang lainnya wajib dibayar setahun kemudian.

PT Primissima tidak mungkin meminta tambahan pagu pinjaman, kementerian pun tidak mungkin menyuntikkan modal kerja baru. Sinergi BUMN baik berupa modal kerja atau memasok kain seragam yang tengah diusahakan juga masih sebatas rencana. Menurut Usmansyah, yang paling dibutuhkan saat ini adalah dana talangan dari BUMN lain berupa modal kerja dengan skema ringan dan kewajiban membayar yang panjang. Ya, keputusan berada di tangan pemerintah, khususnya Menteri BUMN atas nasib satu-satunya BUMN sandang ini.

Semua usaha PT Primissima untuk menjaring modal kerja baru tak lebih dan tak kurang adalah demi mempertahankan nasib ratusan karyawan yang telah setia bekerja di perusahaan bergengsi pada tahun 1980 an ini. “Karena kalau tidak ada modal kerja baru pilihannya hanya dua. Bertahan tanpa PHK tetapi mati, atau terus berjalan tapi potong kaki dan potong tangan [PHK]. Yang kami takutkan kalau begini terus, perusahaan ini nantinya akan berhenti, akan mati. Padahal ini aset negara yang tidak main-main. Sangat potensial jika diselamatkan,” kata Usmansyah. (salsabila@harianjogja.com)