Mahasiswa UII Temukan Cara Memberikan Kepuasan Pemasok & Pembeli dalam Berbisnis

Ilustrasi bisnis. - Bisnis Indonesia
26 Mei 2020 06:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kepuasan antara pembeli atau disebut dengan buyer dengan pemasok barang atau supplier menjadi suatu keniscayaan untuk memperlancar suatu bisnis. Namun yang sering terjadi kedudukan buyer lebih merasa lebih tinggi dibandingkan dengan pemasok barang sehingga belum terjadi kepuasan antarkeduanya.

Kenyataan itu membuat seorang mahasiswa Prodi Magister Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Rizki Prakasa Hasibun berupaya mencari solusi permodelan sistem bisnis untuk menyamakan kedudukan antara pembeli dan pemasok. Maksud pembeli di sini adalah pihak yang membeli barang dari suatu produsen untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen. Sedangkan supplier adalah pihak yang memasok barang.

Rizki menilai selama ini hubungan antara pemasok dengan pembeli belum saling menguntungkan. Kadang-kadang pemasok dirugikan karena tidak adanya kesetaraan kedudukan di antara keduanya. Seringkali ditemukan barang yang sudah disuplai oleh pemasok kepada pembeli namun belum dibayar meski pun sebenarnya sudah laku.

"Kami berusaha untuk mencari suatu permodelan bisnis. Dengan model usulan kami sebut SRPM atau supplier relationship performance measurement yang lebih komprehensif baik dari kacamata pemasok maupun kacamata pembeli pembeli," ungkapnya dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Selasa (25/5/2020).

Model SRPM yang ia temukan dapat memudahkan perusahaan mengukur kinerja hubungan pemasok dengan pembeli. Dengan model usulan diterapkan langsung ke perusahaan manufaktur dengan metode Analitycal Hirarchy Process (AHP), di mana AHP sendiri dapat memecahkan suatu situasi yang kompleks tidak terstruktur ke dalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki.

Ia mengaku telah menerapkan temuannya itu pada perusahaan pemasok dan pembeli selama tiga bulan, hasilnya keduanya sama-sama puas. Melalui matriks SRPM dengan kerangka kerja yang sederhana buatannya dapat mengklarifikasi langsung arus hubungan pembeli-pemasok dalam hal kepuasan dan stabilitas yang terbagi dalam beberapa tingkatan dari puas hingga tidak puas. "Sehingga model ini merupakan suatu model pengambilan keputusan yang komprehensif," katanya.

Ketua Prodi Magister Teknik Industri UII Winda Nur Cahyo menambahkan model yang diusulkan dalam penelitian itu bisa menjadi solusi terkait kendala bisnis antara pemasok dengan pembeli. Menurutnya sangat efektif diterapkan bagi perusahaan pemasok dan pembeli untuk menilai hubungannya. Karena model yang dirancang melalui perspektif pembeli dan pemasok untuk membangun hubungan yang lebih baik dalam mencapai tujuan secara bersama pada posisi sama-sama saling puas dan mempertahankan posisi dari pesaingnya.

"Kepuasan pemasok pada umumnya dengan harga jual di atas HPS dan sistem pembayaran tepat waktu, sedangkan kepuasan pembeli pada umumnya dengan harga beli dibawah HPS, kualitas baik, dam pengiriman tepat waktu," ujarnya.*