Dewan Soroti Ketimpangan Pembangunan Antarkapanewon di Gunungkidul
DPRD Gunungkidul mendorong RTRW baru untuk memangkas ketimpangan pembangunan antarkapanewon, termasuk akses jalan, air bersih, listrik, dan investasi.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com GUNUNGKIDUL–Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul tinggal memiliki 1.873 kit rapid test. Untuk antisipasi kekurangan segera dilakukan pengadaan alat tes cepat guna penambahan stok.
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan sejak pandemi Corona muncul jajarannya sudah mengadakan 10.180 kit rapid test. Jumlah itu ada yang berasal dari pengadaan mandiri, bantuan dari Pemda DIY dan Pemerintah Pusat.
Menurut dia, hingga sekarang sudah digunakan sebanyak 8.307 kit untuk tracing warga yang melakukan kontak dengan pasien positif atau warga yang berpotensi tertular virus Corona. “Saat ini tersisa 1.873 alat tes cepat yang tersebar di seluruh puskesmas di Gunungkidul,” kata Dewi kepada Harian Jogja, Kamis (4/6/2020).
Diungkapnya, stok yang dimiliki tidak banyak terlebih lagi upaya tracing dan tes cepat terus dilakukan. Meski demikian, Dewi mengaku tidak khawatir karena alat tes cepat masih bisa bertambah, baik melalui pengadaan mandiri maupun bantuan dari Pemda DIY dan Pemerintah Pusat. “Kami adakan mandiri dulu, nanti kalau kesulitan BPBD DIY dan BNPB siap memberikan bantuan alat tes cepat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada tambahan alat rapid test,” katanya.
Disinggung mengenai upaya tes massal di tempat-tempat umum seperti pasar, Dewi mengakui masih melakukan kajian. Selain memastikan ketersediaan alat tes cepat, Dinkes juga harus melihat kapasitas tempat karantina yang dimiliki.
“Semua harus dikaji karena dengan tes ini maka potensi pertambahan sangat besar. Jadi harus dipersiapkan karena begitu hasilnya reaktif, maka harus dilakukan isolasi baik secara mandiri atau karantina massal,” katanya.
Dewi menambahkan tes cepat yang dilakukan bukan menjadi acuan utama. Pasalnya, untuk kepastian harus dilakukan tes swab. “Rapid test merupakan alat deteksi awal sekaligus untuk pemetaan potensi penyebaran,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bidang Penyebaran dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Sumitro. Menurut dia, ada prosedur dalam pelaksanaan tes cepat karena tidak hanya sekali, khususnya bagi warga yang negatif. Pasalnya, setelah 10 hari pengetesan akan dites ulang untuk kepastian. “Jadi dua kali mekanismenya. Tetapi kalau positif reaktif hanya sekali karena langsung tes swab untuk memastikan terpapar Corona atau tidak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong RTRW baru untuk memangkas ketimpangan pembangunan antarkapanewon, termasuk akses jalan, air bersih, listrik, dan investasi.
Penjualan mobil listrik dan plug-in hybrid di Rusia melonjak 118 persen saat pasokan bensin terganggu akibat serangan terhadap kilang minyak.
Bhayangkara FC unggul 2-1 atas Dewa United di babak pertama BRI Liga 1. Gol Ristovski, Deni Junior, dan Brenes mewarnai laga di Stadion Indomilk Arena.
Sabalenka tampil di US Open 2026 dengan perhiasan 127,14 karat dari Material Good yang terinspirasi warna dan keberagaman New York.
Bali United vs Isenmulang Kalteng di pekan 2 Super League 2026 tayang di Vidio. Simak jadwal, prediksi pemain, dan peluang kedua tim.
Doa bersama di YASANTI Bantul menjadi ruang penolakan MBG. Kelompok masyarakat menyoroti keracunan, anggaran, dan desain kebijakan.