Sambut New Normal, Sleman City Hall Ganti Tombol Lift Tangan dengan Pedal Kaki

Menyambut new normal, Sleman City Hall (SCH) mengganti tombol lift dengan pedal kaki untuk mencegah penularan Covid/19. Selain itu, dipasang imbauan jaga jarak minimal dua anak tangga pada eskalator, pembatasan kapasitas lift, dan pemisahan pintu masuk dari pintu keluar supaya pengunjung tidak berdekatan. ST/Dok. PR SCH
06 Juni 2020 22:27 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Sleman City Hall (SCH) menyambut baik pencanangan new normal atau kenormalan baru dari pemerintah. Salah satu mal di Sleman ini pun sudah melakukan persiapan.

Guna mencegah penyebaran Covid-19, SCH mempersiapkan protokol keamanan dan kesehatan yang melibatkan berbagai macam pihak. Salah satu upaya yang dilakukan SCH yakni dengan melakukan pembersihan dan penyemprotan cairan disinfektan di seluruh area mal secara detail, terutama di daerah fasilitas umum yang sering digunakan oleh pengunjung. Pembersihan dilakukan secara rutin minimal 4 jam sekali.

"Pastinya pembersihan dilakukan secara detail setiap harinya, terutama didaerah fasilitas umum yang sering digunakan oleh pengunjung setia Sleman City Hall," ujar selaku Public Relations SCH Tika Sari, dikutip SuaraJogja.id, Sabtu (6/6/2020), dari siaran pers.

Baik pengunjung maupun karyawan, setiap orang yang akan memasuki area mal wajib melalui pemeriksaan suhu tubuh, dengan batas maksimal 37,3 derajat celsius sesuai dengan Edaran Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Di samping itu, SCH juga menyediakan area cuci tangan di pintu masuk, yang wajib digunakan setiap orang yang akan memasuki area mal.

Pengunjung dan karyawan juga wajib menggunakan masker sebelum memasuki dan selama berada di area SCH. Jika tidak taat, pengunjung atau karyawan tidak diperbolehkan memasuki area mal.

Jaga jarak pun diterapkan di beberapa area di dalam mal, seperti jarak antrean di area ATM center, area kasir setiap tenant, dan area customer service, begitu juga di area toilet, area mushola, dan bench. Terdapat pula imbauan jaga jarak minimal dua anak tangga pada eskalator, pembatasan kapasitas lift, dan pemisahan pintu masuk dari pintu keluar supaya pengunjung tidak berdekatan.

Menurut keterangan Tika, SCH menjadi mal pertama di Yogyakarta yang berinovasi semaksimal mungkin dalam persiapan menghadapi new normal. Salah satunya, saat ini mesin karcis baik untuk sepeda motor maupun mobil sudah tidak lagi menggunakan tombol yang dipencet untuk mendapatkan karcis, melainkan cukup dengan sensor tangan.

Bahkan, lift pengunjung juga tidak lagi menggunakan tombol tangan. Sebagai gantinya, SCH menyediakan pedal kaki. Kedua hal ini merupakan upaya SCH untuk meminimalisasi kontak fisik agar terhindar dari penularan virus corona.

Tika menambahkan, protokol disiplin penggunaan alat pelindung diri berupa masker, sarung tangan, dan face shield diwajibkan bagi karyawan yang berada di lapangan, seperti customer service, security, kasir di area parkir, dan cleaning service. Sebagai bentuk dukungan bagi pemerintah dalam mencegah makin meluasnya penularan COVID-19, SCH pun selalu memastikan bahwa protokol yang dijalankan telah sesuai dengan imbauan dari pemerintah, baik itu pusat maupun daerah.

"Selain mengedepankan langkah-langkah antisipatif, manajemen juga memberikan edukasi bagi para karyawan untuk selalu mengikuti imbauan dari pemerintah. Salah satunya yaitu perubahan jam operasional mal menjadi 10.00 – 21.00 WIB, di mana perubahan tersebut sudah sesuai dengan keputusan dari pemerintah," jelas Tika.

Pihak SCH, lanjut Tika, berkomitmen untuk terus melakukan mitigasi sebagai upaya mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 di lingkungan SCH dan bersiap menuju kondisi new normal dengan tidak tergesa-gesa, demi kenyamanan dan keamanan pengunjung setia SCH.

Sumber : Suara.com