Advertisement
Begini Persiapan Pesantren di Sleman Menghadapi New Normal
Ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Pondok pesantren bersiap menghadapi tata kehidupan baru atau new normal di masa pandemi Covid-19. Di Sleman, santri diharapkan kembali secara bertahap.
“Lembaga Pesantren sudah menyiapkan diri, karena aktivitas pesantren juga harus dimulai. Termasuk para santri yang akan kembali ke pesantren untuk mulai belajar kembali,” ujar Pengasuh Pesantren As Salafiyah KH Zar’anudin, Sabtu (13/6/2020).
Advertisement
Zar’an mengatakan pesantren telah menyiapkan berbagai prosedur dan sistem yang disesuaikan dengan protokoler kesehatan, seperti penyediaan tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker hingga ruang isolasi mandiri bagi santri. "Ada beberapa ruangan yang disiapkan untuk tempat karantina saat para santri datang," terangnya.
Para santroi jug adiminta datang bertahap. Setiap tahap, santri yang kembali ke pesantren dibatasi antara 40 hingga 50 santri. Santri yang datang dijadwalkan mulai 1 Juli mendatang dan tahap selanjutnya 15 hari setelah itu. "Proses ini akan kami lakukan sampai semua santri hadir semua. Syaratnya para santri harus membawa surat keterangan sehat bebas virus covid dari daerahnya masing-masing," terangnya.
Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan pesantren harus menjaga protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Bupati Sleman telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Bupati Sleman No.443/01352 tentang Panduan Penerimaan Kedatangan Mahasiswa dari Luar Daerah.
Dalam SE tersebut, para santri harus membawa surat keterangan sehat bebas Covid-19 dari daerah asal, melakukan karantina mandiri, melapor ke asrama dan pemerintah setempat. "Santri bisa beraktivitas normal selama bisa menujukkan hasil hasil rapid diagnostic test Covid-19 dengan hasil non-reaktif yang masih berlaku," terangnya.
Pesantren harus melaporkan para santri yang datang dan kondisi kesehatan mereka secara berkala, menyiapkan fasilitas kesehatan dan ruang karantina mandiri yang memadai. "Aktivitas pembelajaran dan ibadahnya juga harus dengan physical distancing selama masa pandemi ini," sarannya.
Anggota DPRD DIY Syukron Arif Muttaqin mengatakan pemerintah wajib hadir ke lembaga pesantren dalam menghadapi situasi new normal. Sebab, keberadaan pesantren juga tidak kalah penting dengan entitas pendidikan lainnya di DIY. "Banyak mahasiwa di DIY yang juga tinggal di pesantren. Makanya, pemerintah juga harus hadir dengan kebijakannya dan memperhatikan pesantren menghadapi new normal ini," kata anggota FPKB DPRD DIY ini.
Sebelumnya, Ketua PCNU Sleman KH. Ismail S. Ahmad mengatakan berdasarkan jadwal kegiatan pendidikan di kalangan pesantren, ribuan santri akan kembali ke wilayah Sleman pada Juli nanti. Mereka yang kembali diminta untuk melengkapi surat keterangan sehat dan bebas Covid-19 dari daerah asal. "Kami sudah berikan sosialisasi ini kepada seluruh pesantren yang berafiliasi dengan Nahdatul Ulama," kata Ismail kepada Harian Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prabowo Buka Opsi Tim Independen Usut Kasus Penyiraman Air Keras
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Salat Id Digelar di Masjid Gedhe Kauman hingga Sekitar Alun-Alun
- Bupati Sleman dan Forkopimda Pantau Kesiapan Pospam Mudik Lebaran
- Meriah, Takbir Keliling Tamanan Bantul Libatkan 8 Rombongan
- Takbiran BMI Yudonegaran Angkat Isu Lingkungan,
- Gema Takbir Jogja 2026 Ajak Peserta Gunakan Properti Daur Ulang
Advertisement
Advertisement








