Dinkes Jogja Imbau Masyarakat Waspadai DBD di Tengah Pandemi Corona

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
23 Juni 2020 11:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO--Dinas Kesehatan Kota Jogja mengimbau agar masyarakat juga memperhatikan lingkungannya dari sarang nyamuk Aedes Aegypti yang mampu menimbulkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) selain penyakit Covid-19 yang masih menjadi momok di tengah masyarakat.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja, Endang Sri Rahayu mengatakan jika Kota Jogja yang di tahun-tahun sebelumnya menempati urutan satu atau dua untuk kasus DBD di DIY, tahun ini mengalami perbedaan.

BACA JUGA : Awas, Pasien Covid-19 Berisiko Terkena Demam Berdarah

"Dulu Kota Jogja ganti-gantian dengan Sleman. Tahun ini Kota Jogja menempati urutan empat. Soal infeksi ganda DBD dan Covid-19, pasien meninggal kan memang belum semua sempat dilakukan swab, untuk yang pasien PDP Covid-19 ya," ujar Endang, Senin (22/6/2020).

Angka DBD sendiri mengalami penurunan di kota Jogja jika dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu, angka DBD di wilayah kota Jogja berada di angka 478. Sedangkan, untuk tahun 2020 ini, angka kasus DBD berada di angka 239.

"Angka kasus DBD tahun ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Tahun ini berada di angka 239 per 12 Juni. Masyarakat diimbau untuk tetap melaksanakan protokol pencegahan penularan DBD di samping protokol Covid-19," terangnya.

BACA JUGA : Dalam Sebulan, DBD di Bantul Bertambah 310 Kasus

Lebih lanjut, langkah paling efektif yang ampuh untuk memberantas jentik nyamuk Aedes Aegypti adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala.

"Kalau dilakukan PSN, sarang nyamuk bisa bertelur tapi tidak bisa menjadi nyamuk dewasa. Upaya tersebut yang harus dilakukan oleh masyarakat agar terhindar dari penyakit DBD," ungkap Endang.

Sosialisasi atau imbauan melalui promosi kesehatan juga terus dilakukan oleh Endang. Bidang promosi kesehatan, lanjut Endang, memang tengah okus terhadap penanganan Covid-19. Namun, masyarakat juga diharapkan tidak melupakan ancaman DBD.

"Mobil keliling milik bidang promkes juga terus berkeliling ke tiap-tiap kelurahan untuk melakukan imbauan," imbuhnya.

Upaya fogging justru mengalami penurunan pada tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Fogging, menurut Endang, merupakan pilihan terakhir untuk dilakukan setelah PSN. Ketika di sebuah tempat sudah terjadi penularan dengan ditemukannya kasus lain dan angka bebas jentik bebas kurang dari 95, SOP yang diambil memang harus dilakukan fogging.

"Jadi, percuma saja dilakukan fogging kalau PSN tidak dilaksanakan. Fogging itu kan hanya membunuh nyamuk dewasa. Jadi begitu jentiknya tidak kena ya bakal jadi nyamuk dewasa lagi. Fogging juga tidak baik jika dilakukan secara terus menerus," tutupnya.