Golkar DIY Anggap RUU HIP Bahayakan Kehidupan Beragama

Foto Ilustrasi Ketua DPD Golkar DIY Gandung Pardiman - Harian Jogja/David Kurniawan
30 Juni 2020 00:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar DIY Gandung Pardiman menilai Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) sulit diterima bagi akal sehat dan dapat membahayakan bagi kesatuan dan persatuan bangsa serta membahayakan bagi kehidupan beragama di Indonesia.

“Kami anggap [RUU HIP] sangat berbahaya bagi kehidupan beragama,” kata Gandung, seusai pelantikan Gerakan Pasukan Anti Komunis (Gepako) di Gedung Gandung Pardiman Center (GPC), Karangtengah, Imogiri, Bantul, Minggu (28/6/2020).

BACA JUGA : FPAN Desak Pembahasan RUU HIP Dihentikan

Gandung mengatakan pembentukan Gepako tingkat DIY dan kabupaten kota tersebut tidak lepas dari adanya ancaman dari pihak-pihak yang ingin mengubah Pancasila sebagai dasar negara. Menurut dia, pancasila merupakan satu kesatuan yang saling menjiwai. Pancasila, kata dia, juga merupakan bagian dari kesepakatan anak bangsa dalam menyatukan keberagaman dan perpaduan dari kaum nasionalis dan agamis.

Ia tidak mempersoalkan ada partai atau organisasi yang memiliki ciri khas masing-masing, “Golkar ciri khas karya, ada partai yang berciri khas dakwah, ada yang ciri khas gotong royong monggo [silahkan]. Tapi jangan memaksakan ingin menjadi pemahaman nasional. Siapapun harus bisa menerima kesepakatan,” ujar Gandung.

BACA JUGA : RUU HIP Dikhawatirkan Timbulkan Perpecahan

Lebih lanjut anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI ini menyatakan kabar terakhir soal polemik RUU HIP, saat ini diakuinya pimpinan dewan sudah sepakat akan menunda pembahasan RUU HIP sesuai mekanisme di DPR RI agar tidak terjadi gonjang-ganjing yang berkelanjutan. Ia mendesak agar tidak hanya menunda pembahasan RUU HIP namun menghapusnya dari program legislasi nasional 2020 karena dianggap tidak ada urgensinya untuk dibahas.

Gandung menegaskan jika sepakat pancasila sebagai dasar negara, maka harus dijunjung tinggi dan semua pihak bisa menahan diri upaya untuk mengubahnya. “Pancasila tidak seperti jeruk yang bisa diperas-peras,” ujarnya.

Dalam pelantikan Gepako tersebut juga dihadiri tokoh dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus dilanjutkan dengan diskusi soal pancasila. Selain menolak RUU HIP, Gandung Pardiman juga menolak tegas paham khilafah.

Komandan Gepako Bantul, Suryono mengatakan Gepako lahir sebagai pembela Pancasila, nasionalis yang anti ekstrem kiri dan ekstrem kanan, dan paham lainnya seperti komunisme, marxisme, leninisme, liberalisme, kapitalisme, individualisme, radikalisme dan khilafah.

“Sejak maraknya perdebatan dan pertentangan gagasan dan aspirasi sebagai akibat munculnya RUU HIP, Gepako merasa terusik dan merasa ada pihak-pihak yang ingin mengutak atik ideologi Pancasila, ingin memeras sila-sila Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila,” kata Suryono.