Perajin Topeng Kayu Terancam Gulung Tikar

Perajin topen kayu, Kemiran memperlihatkan koleksi kerajinan kayu yang dimilikinya. Akibat corona, perajin topeng kayu berhenti produksi karena sepinya pemesanan. Kamis (2/7/2020). - Harian Jogja/David Kurniawan.
03 Juli 2020 07:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, PATUK – Perajin topeng kayu di Dusun Bobung, Putat, Patuk terancam gulung tikar karena pandemic corona. Adanya penyebaran wabah mebuat geliat usaha menjadi  berhenti karena sepinya pemesanan kerajinan.

Salah seorang perajin topeng kayu di Dusun Bobung, Kemiran mengatakan, dampak dari penyebaran corona sangat dirasakan oleh perajin topeng maupun batik kayu di wilayahnya. Gara-gara wabah ini, kegiatan usaha berhenti karena tidak adanya pemesanan kerajinan.

“Sekarang tidak ada penghasilan dari kerajinan kayu. Padahal dulu di waktu normal satu bulan bisa mengantongi Rp10 juta,” kata Kemiran kepada wartawan, Kamis (2/7/2020).

BACA JUGA : WISATA BANTUL : Kerajinan Topeng Asal Krebet Laris Manis

Ia mengakui terakhir kali mendapatkan pesanan kerajinan pada Februari lalu. Selebihnya hingga Juli ini belum ada pesanan lagi. Untuk bertahan hidup, Kemiran menggantungkan hasil pertanian dari lahan yang dimiliki. Sedangkan untuk menambah penghasilan, ia terpaksa ganti pekerjaan dengan memelihara ayam kampung.

“Untuk bisa bertahan, maka saya ternak ayam kampung dan hasilnya bisa digunakan tambahan penghasilan,” katanya.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Gunungkidul, Sih Supriyana mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan kabar berkaitan dengan mandeknya usaha kerajinan kayu di wilayah Bbung. Menurut dia, dinas juga sudah melakukan kunjungan ke Koperasi Kerajinan di wilayah tersebut yang membawahi para perajin. “Kami sudah cek dan memang geliat usaha berhenti karena corona,” katanya.

Disinggung mengenai adanya bantuan stimulan, Sih Supriyana mengakui dinas koperasi UKM tidak memiliki. Hanya saja, pada saat pendataan sektor usaha terdampak corona, sudah ikut mengusulkan sesuai dengan kategori usaha yang ada.

“Kami usulkan sekitar 23.000an usaha, tapi untuk pemberian bantuan terdampak coron, kami belum mendapatkan data dari dinas yang menyalurkan bantuan,” katanya.

Menurut dia, lesunya usaha karena corona tidak hanya dirasakan oleh perajin topeng kayu, tapi usaha lain juga mengalaminya. Hasil dari pendataan yang dilakukan, kata Sih Supriyana, kerajinan dan fashion menjadi usaha yang paling terkena imbasnya.

“Ya kalau sektor kuliner masih bisa berjalan. Selama pandemi corona, agar tetap memiliki penghasilan, kami menyarankan perajin untuk alih pekerjaan seperti membuat mebel atau bertani,” katanya.