Advertisement
Perajin Bambu Cebongan Sleman Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Perajin bambu diPasar Pusat Kerajinan Bambu Cebongan, Sleman ditemui pada Selasa (13/1/2026) memilih bertahan di era perkembangan furnitur modern. - Harian Jogja // Catur Dwi JanatiÂ
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan selera pasar furnitur membuat kerajinan bambu tak lagi menjadi pilihan utama masyarakat. Di Cebongan, Sleman, para perajin mengubah strategi bertahan hidup dengan menggeser produksi dari mebel besar ke ornamen dan peralatan rumah tangga berbahan bambu.
Di bawah langit mendung, Selasa (13/1/2026), aktivitas bongkar muat mebel bambu tampak di salah satu kios Pasar Pusat Kerajinan Bambu Cebongan. Poniyem (65) dan suaminya, Parman (67), mengawasi proses itu dengan saksama. Di kios bertajuk “Bambu Indah Sendari”, beragam produk bambu tersusun rapi, mencerminkan ketekunan sekaligus estetika yang lahir dari tangan mereka.
Advertisement
Lincak, set kursi, dipan, kap lampu, hingga gazebo bambu berukuran besar memenuhi kios tersebut. Setiap anyaman dan sambungan bambu memperlihatkan kerumitan proses serta ketelitian yang membentuk karakter artistik produk. Seluruh furnitur itu dihasilkan langsung oleh Poniyem dan Parman, yang hingga kini tetap setia menekuni kerajinan bambu.
Keterampilan Poniyem tidak hadir secara instan. Ia tumbuh di lingkungan keluarga perajin bambu. Sejak kecil, keterampilan itu diwarisi secara turun-temurun dan terus diasah seiring perkembangan zaman.
BACA JUGA
“Dari kecil, kelihatannya dari turun menurun. Jadi orang tua sudah perajin bambu. Cuma makin lama kan makin perkembangan zaman terus dapat bimbingan dari kantor perindustrian,” ujar Poniyem.
Pada masa awal, hasil kerajinan bambu hanya dipajang di rumah karena belum ada lokasi strategis untuk berjualan. Baru pada awal tahun 2000-an, Poniyem mulai menjajakan produknya di pinggir Jalan Cebongan–Sidomoyo sebelum akhirnya menempati kios di Pasar Pusat Kerajinan Bambu Cebongan.
Perpindahan lokasi itu mengubah pola usaha. Saat masih berjualan dari rumah, produk hanya disetorkan ke pedagang mebel. Dengan memiliki kios sendiri, Poniyem bisa berinteraksi langsung dengan pembeli tanpa perantara.
“Kalau di rumah itu kan cuma disetor. Umpamanya harga Rp200.000, ya sudah Rp200.000 terus kalau belum berapa tahun belum pernah ada peningkatan,” ujarnya.
“Tapi kalau di sini kan sistemnya itu langsung bertemu pembeli sama saling tawar menawar dan meminta bentuk atau desain sendiri, jadi ada yang request,” ungkapnya.
Awalnya, pesanan didominasi lincak. Namun seiring waktu, permintaan semakin beragam. Pecinta kerajinan bambu kerap datang membawa gambar atau sampel desain dan meminta dibuatkan produk serupa. Proses ini membuat perajin semakin terampil menghasilkan bentuk-bentuk baru.
“Ya, orang request, pesan-pesan itu. Awalnya bawa gambar bisa bikin seperti ini tidak? Terus bisa,” ujarnya.
Tak heran, kios Poniyem kini dipenuhi produk bambu dengan bentuk artistik, mulai dari kap lampu gantung, set kursi, hingga berbagai ornamen dekoratif. Namun, kehadiran internet dan perdagangan daring berdampak besar terhadap penjualan, terutama sejak pandemi.
Poniyem menilai kualitas kerajinan bambu Cebongan sejatinya mampu bersaing, bahkan lebih baik dibanding produk pasar daring.
“Yang online itu ada produksi dari lain sini. Kualitasnya saya jamin lebih bagus sini. Itu kan cuma asal-asalan mirip-mirip saja. Jadi harganya lebih murah,” tuturnya.
Ia masih mengingat masa kejayaan kerajinan bambu Sendari. Pada awal 2000-an, produk Cebongan diminati hingga pasar internasional.
“Kalau dulu itu mungkin perajinnya belum banyak. Tapi sekarang kan banyak. Jadi orang asing itu dulu banyak yang belanja di sini, pesenan-pesenan itu besar. Kalau dulu paling kontaineran lah. Sekarang enggak ada sama sekali,” ujar Poniyem.
Pada masa puncak tersebut, Poniyem mempekerjakan hingga 25 karyawan. Kini, seiring menurunnya permintaan, hanya ia dan Parman yang mengerjakan pesanan.
“Sekarang habis [karyawan]. Iya [cuma saya dan suami]. Itu saja cuma bikin dagangan saja. Kalau ada pesanan banyak, baru kita ambil tukang. Kalau sekarang sepi, cuma untuk harian saja,” tuturnya.
Meski hanya lulusan SMP, Poniyem mampu membangun rumah, membeli sawah, serta menyekolahkan anak-anaknya dari hasil kerajinan bambu.
“Kalau dulu kan saya ini kan cuma SMP. Suami saya juga enggak sekolah. Tapi, alhamdulillah, dulu itu sudah bisa bikin rumah walaupun apa adanya. Beli motor, dulu sudah pernah bisa beli mobil juga. Tapi, ya berhubung keadaan itu, mobilnya sudah kejual,” ujarnya.
Seiring perubahan zaman, tren kerajinan bambu pun bergeser. Kini, ornamen dekoratif dan peralatan rumah tangga berbahan bambu lebih diminati. Lincak dan set kursi masih memiliki pasar, tetapi tidak lagi menjadi sandaran utama.
“Ya kursi-kursi itu, iya [mebel rumah], meja, tempat tidur atau bikin gazebo,” tuturnya.
“Itu kalau sudah pesan gazebonya, kadang seisinya, meja makan, terus tempat nasi, piring, lampu-lampu sekalian kadang seperti itu. Kalau kursinya itu saja nggak bisa diharapkan. Yang seperti [kerajinan bambu] itu yang bisa langsung masih bisa berjalan,” ujarnya.
Penjualan kini tak menentu. Ada hari-hari sepi, ada pula waktu tiba-tiba ramai. Setidaknya, dalam sepekan masih ada produk yang terjual. Mayoritas pembeli berasal dari wilayah DIY, berbeda dengan masa lalu ketika pembeli dari Jepang, Prancis, hingga Australia mendominasi.
“Dulu kan dari Jepang, dari Perancis, Australia. Kalau pesan banyak. Sekali pesan bisa dikerjakan tiga bulan, itu satu negara. Kebanyakan itu kursi yang bahannya dari bambu petung. Bentuknya kaya sofa-sofa itu,” ujarnya.
Meski kondisi berubah, Poniyem tetap bertahan sebagai perajin bambu. Keterampilan yang ia tekuni sejak kecil menjadi pegangan hidupnya.
“Bisanya seperti ini. Enggak tahu besok kalau ini sudah enggak ada, ada yang melanjutkan atau tidak,” tuturnya.
Ia berharap ada dukungan pemerintah untuk menghidupkan kembali kejayaan kerajinan bambu Cebongan.
“Soalnya saya kan bisanya cuma di bambu itu. Ya mudah-mudahan pemerintah itu mau mikirkan bagaimana tukang itu, perajin bambu itu bisa seperti dulu lagi. Bisa berkembang lagi,” ujar Poniyem.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- PBTY 2026 Hadirkan Takjil dan Seni Budaya di Bulan Ramadan
- BBWSO Sebut Bangunan di Pinggir Sungai Picu Talud Tegalrejo Ambruk
- Pemkab Bantul Bakal Tanggung Tagihan Listrik Penerangan Jalan RT
- Hampir Separuh Pustu di Bantul Rusak, Ancam Layanan Kesehatan
- Antrean Masuk SD Muhammadiyah Sapen hingga 2032
Advertisement
Advertisement



