Terjadi Penggembungan di Gunung Merapi, Ini Kata Sultan

Sri Sultan hamengku Buwono X-Gubernur DI.Yogyakarta. - Harian Jogja/Desi Suryanto
09 Juli 2020 17:47 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Kendati terjadi penggembungan atau deformasi pada Gunung Merapi, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman diminta memastikan tidak ada jalur evakuasi yang rusak.

Ia menuturkan status Gunung Merapi tidak ada peningkatan dan masih sama dengan beberapa waktu sebelumnya, yakni waspada. “Biarpun ada aktivitas mengeluarkan magma, tapi jaraknya terbatas dan tetap di atas,” ujarnya, Kamis (9/7/2020).

Sebab itu ia mengimbau masyarakat sekitar Merapi untuk tidak khawatir namun tetap waspada. Menurutnya, periode aktivitas Gunung Merapi sekarang berbeda dengan dulu. Jika dulu aktivitas terjadi dalam kurun empat tahun sekali, sekarang lebih lama yakni delapan tahun sekali.

BACA JUGA: Penerima BLT Dana Desa di Bantul Dipastikan Berganti Orang

Warga lereng Merapi kata dia, sudah tahu persis tanda-tanda jika Merapi akan meletus. Meski dikatakan bahaya, warga belum akan mengungsi jika belum ada binatang gunung yang turun untuk menyelamatkan diri. “Mereka juga tidak menyimpan barang berharga di dalam lemari, tapi sudah disiapkan, ditaleni. Kalau ada bencana itu saja yang dibawa,” ungkapnya.

Meski demikian ia tetap mendukung penggunaan teknologi dalam mendeteksi aktivitas Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kata dia, akan memasang alat pendeteksi ini untuk mengganti alat yang sebelumnya rusak.

Ia berharap teknologi ini mampu lebih baik dalam memperingatkan masyarakat saat terjadi bencana. Namun ia juga meminta masyarakat agar turut menjaga alat pendeteksi, jangan sampai malah dicuri seperti yang terjadi pada alat pendeteksi gempa milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun lalu.

Terkait jalur evakuasi, ia minta perlu dipastikan kembali agar tidak ada yang rusak. “Dalam kondisi waspada tidak boleh ada yang rusak. Truk saja kalau parkir harus menghadap selatan. Jalan harus bagus sehingga bisa untuk lewat kendaraan dengan kecepatan 80 Km per jam,” kata dia.