UGM Ciptakan Pengukur Suhu Badan dari Jarak Hingga 2 Meter

Tim dosen dari Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) UGM mengembangkan thermal imaging supaya deteksi suhu tubuh sebelum memasuki suatu ruangan bisa memaksimalkan aturan jaga jarak sejauh dua meter.-Ist - Dok. Humas UGM
09 Juli 2020 18:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Imbauan pemerintah untuk menjaga jarak minimal satu meter dinilai tim dosen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sulit dimaksimalkan saat pengecekan suhu tubuh dengan thermogun. Hal ini melatarbelakangi mereka mengembangkan alat pengukur suhu tubuh dengan pemindai wajah atau thermal imaging.

Tim dosen dari Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) UGM mengembangkan thermal imaging ini untuk mengukur panas tubuh yang dipancarkan manusia yang berdiri di depan alat. Dengan alat ini, suhu tubuh manusia dapat diketahui tanpa harus bersentuhan secara fisik atau didekatkan dengan objek.

"Alat ini mampu mendeteksi suhu tubuh dalam jangkauan hingga 2 meter di depan alat. Selain fitur pengukur suhu tubuh, alat juga dilengkapi fitur pendeteksi wajah dan fitur penggunaan masker,” jelas salah seorang tim pengembang thermal imaging, Igi Ardiyanto pada Kamis (9/7/2020). Inovasi ini dikembangkannya dalam satu tim bersama Addyn Suwastono dan Eka Firmansyah.

BACA JUGA: Begini Cara Maria Pauline Lumowa Membobol BNI Rp1,7 Triliun

Igi menuturkan secara umum penggunaan pemindai suhu tubuh mengharuskan alat yang dipegang oleh seseorang didekatkan pada wajah objek dalam jarak yang sangat dekat. Hal ini membuat jarak antara orang yang memindai dan dipindai sangat tipis.

Padahal, masyarakat direkomendasikan untuk menjaga jarak minimal satu meter untuk mencegah penyebaran Covid-19. Resah akan kondisi itu, dia dan tim berusaha membuat inovasi alat pengukur suhu tubuh yang dapat mendeteksi suhu dalam batas aman jaga jarak untuk meminimalkan penularan virus.

Alat thermal imaging ini disusun dengan sejumlah komponen, yakni kamera termal dan personal computer yang dibenamkan, speaker, dan gate. Cara kerja alat ini dengan mengukur suhu tubuh berdasar radiasi termal objek, memindai wajah, dan penggunaan masker melalui kamera termal. Setelah dipindai, data yang diperoleh akan diproses oleh komputer dan hasil akhirnya berupa suara akan keluar melalui speaker.

“Outputnya berupa suara. Misalnya, 'Mohon maaf suhu badan Anda melebihi batas normal'. Kalau semua kriteria terpenuhi maka keluar suara 'Akses diterima, silakan masuk' dan gate terbuka,” papar Igi.

Ia menegaskan thermal imaging ini lebih akurat dibandingkan alat lainnya untuk mengukur suhu tubuh karena dilengkapi kamera dengan resolusi 160 pixel. Terlebih, alat ini juga bisa mendeteksi penggunaan masker. "Kalau obyek terdeteksi tidak memakai masker, maka akses masuk ke ruangan akan langsung ditolak," terangnya.

Lebih lanjut, menjelang adaptasi kebiasaan baru, alat ini akan ditempatkan di sejumlah titik di kampus UGM sehingga bisa mencegah penularan Covid-19 di lingkungan kampus. Sementara ini, prototipe yang dikembangkan pada awal bulan Juni 2020 ini telah diaplikasikan di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) FT UGM.

“Saat ini kami dalam proses membuat lima unit lagi. Kendalanya ada komponen yang sangat sulit didapat dalam jumlah besar yaitu thermal camera, karena saat ini banyak dicari sejumlah pihak,” tuturnya.