Ada Sayembara Misuh di Jogja, Ini Syaratnya

Flyer Sayembara Misuh Internasional 2020 digelar oleh komunitas Jawasastra di tengah pandemi Covid/19./Ist
10 Juli 2020 18:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sayembara Misuh Internasional 2020 digelar oleh komunitas Jawasastra di tengah pandemi Covid-19. Acara yang digelar untuk mewadahi orang untuk misuh dalam budaya Jawa tersebut diadakan mulai dari 8 Juli sampai dengan 7 Agustus 2020. Kali ini, tema yang diambil adalah #misuhipandemi.

Ketua Jawasastra Yani Srikandi, 24, mengatakan jika acara Sayembara Misuh Internasional tersebut digelar dengan berlatar belakang misuh yang sebenarnya merupakan bagian dari kebudayaan Jawa.

"Jadi, yang selama ini banyak orang bayangkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang besar, sentris, maupun sesuatu yang luhung. Kita melupakan budaya pinggiran bentuk budaya itu (misuh) eksis. Kami menyadari bahwa kebudayaan misuh itu ada dan mengakuinya," kata dia, Jumat (10/7/2020).

Selama ini, lanjut Yani, misuh masih dianggap sebagai budaya yang tabu. Padahal, budaya misuh sendiri memang sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Jawa. "Mau dianggap budaya tapi kok kayak gitu, ngisin-isini (malu-maluin)," imbuhnya.

Sayembara misuh sendiri sudah digelar sebelumnya pada 2018 lalu. Isu yang diangkat adalah SARA. Akhirnya, Yani dan jawatannya di Jawasastra membuat sayembara misuh bertajuk: misuh memang saru, tapi jangan sampai sara.

"Kebetulan 2018 lalu peminatnya banyak. Pengirim videonya sendiri ada yang melalui tim maupun individu. 166 video terkumpul saat itu. Kami ingin mengulang lagi sayembara misuh pada 2019 dengan tema lingkungan atau ekologi. Namun, gagal dilaksanakan karena situasi politik saat itu," terangnya.

Jawasastra tidak patah arang setelah gagal melaksanakan sayembara misuh pada 2019 lalu. Sayembara misuh dimulai lagi pada 2020 ini dengan mengambil tajuk Misuhi Pandemi. Peserta sendiri dituntut untuk mampu misuh dengan berbahasa Jawa.

Adapun, teknis pelaksanaan kegiatan sayembara misuh pada 2020 yang digelar oleh komunitas Jawasastra sendiri diantaranya. Pertama, individu maupun kelompok membuat video Bahasa Jawa plus misuh. Durasi maksimal tiga menit. Video dilarang berisikan konten rasis dan seksis.

"Videonya sendiri diupload ke akun masing-masing peserta. Boleh di akun Instagram perseorangan maupun akun Instagram kelompok. Jangan lupa tag akun Instagram @Jawasastra. Tidak lupa isi deskripsi isi video di caption foto. Jangan lupa sertakan hashtag #misuhipandemi," terang Yani.

Komunitas Jawasastra sendiri merupakan komunitas yang menaruh perhatian terhadap kebudayaan Jawa. Komunitas tersebut berisikan mahasiswa dari Sastra Nusantara (Jawa) Fakultas Ilmu Budaya UGM maupun alumni.

"Kami sering nongkrong bareng. Sering juga membuat kegiatan yang bersinggungan dengan kebudayaan Jawa. Namun, komunitas kami tidak terikat dengan kampus, kami juga dibantu dari alumni dari berbagai kampus yang memang menaruh perhatian kepada kebudayaan Jawa, bukan hanya sastra, kesenian, tapi secara keseluruhan," terangnya.

Bicara soal target, Jawasastra sendiri ingin mengajak masyarakat khususnya masyarakat Jawa untuk memahami kebudayaan Jawa secara utuh. Jadi tidak hanya terbatas oleh kalangan, akademisi hingga sosiolinguistik yang memang kerap meneliti soal budaya misuh. Sedangkan, masyarakat masih menganggap misuh sebagai hal yang tabu.

"Kami ingin menyalurkan hasil belajar kami ke masyarakat juga. Jadi, tidak ada jarak yang begitu jauh dalam pemaknaan budaya Jawa. Itu target muluk kami. Biar kita berpikir kritis bersama, orang itu nantinya nggak kagetan, nggak gampang ngomeni orang lain, kalau pemahamannya (budaya Jawa) makin luas kan makin njawani," jelasnya.

Sampai saat ini, peserta yang sudah membuat video sayembara misuh tahun 2020 bertajuk misuhi pandemi Covid-19 ini sebanyak 10 peserta. Rata-rata yang sudah mengirimkan karyanya adalah masyarakat secara umum bukan hanya dari pemerhati kebudayaan Jawa maupun kalangan akademisi.

"Lebih general, lebih menyenangkannya justru yang mengumpulkan karya adalah masyarakat secara umum. Ternyata memang bisa menembus semua lapisan, akhirnya tujuan kami tercapai," tandasnya.