Pengelola Objek Wisata Diminta Mendata Pengunjung untuk Mudahkan Penelusuran

Simulasi penerapan protokol kesehatan di pintu masuk objek wisata Kalibiru, Senin (29/6/2020) - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
17 Juli 2020 08:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pariwisata Bantul meminta pengelola wisata untuk mendata semua pengunjung yang masuk. Pendataan itu untuk memudahkan penelusuran jika terjadi penularan infeksi Coronavirus Disease atau Covid-19 di objek wisata.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dinas Pariwisata Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan pendataan wisatawan saat ini baru dilakukan di pintu masuk kawasan Pantai Parangtritis. Wisatawan yang masuk akan melalui serangkaian pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan suhu dan melakukan scan QR Code yang terpasang di gerbang Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis.

Sejauh ini diakuinya scan QR Code sudah berjalan dengan baik. Hanya belum optimal karena dapat menimbulkan antrean panjang kendaraan wisatawan, “Ya praktek di lapangan terjadi antrean tapi kami akan perbaiki terus,” kata Antoni, saat dihubungi Kamis (16/7/2020).

BACA JUGA : Wisatawan Domestik Jadi Tumpuan di Tengah Pandemi

Selain di Parangtritis, kata Antoni, penerapan scan QR Code rencananya akan diterapkan di semua objek wisata lainnya. Namun saat ini alat tersebut belum tersedia sehingga pengelola tetap diminta mendata meski dengan manual.

Lebih lanjut Antoni mengatakan pada masa adaptasi kebiasaan baru ini baru ada 10 objek wisata dan usaha jasa pariwisata yang sudah buka di Bantul. jumlah tersebut belum termasuk wisata pantai yang dikelola oleh Dinas Pariwisata.

“Sebenarnya ada 14 yang sudah mengajukan [untuk buka] tapi yang direkomendasikan baru 10,” kata dia.

Menurut dia, pembukaan objek wisata di masa adaptasi kebiasaan baru ini tidak sembarangan, melainkan harus memenuhi syarat di antaranya bersedia menerapkan protokol kesehatan. Secara umum, kata dia, objek wisata yang sudah buka sudah melaksanakan protokol kesehatan.

Meski masih ditemukan beberapa wisatawan yang tidak mengenakan masker. “Kami disarankan oleh kepala dinas kami untuk terus mengingatkan pokdarwis dan pengelola wisata agar tetap melaksanakan protokol kesehatan,” ucap Antoni.

BACA JUGA : Bukan Wisata Massal, Ini Model Pariwasata yang Bakal

Sementara itu Manajer Pemasaran Kids Fun, Ratri Nandi Pratiwi mengatakan proses pendataan semua pengunjung sudah dilakukan sejak wahana wisata anak itu dibuka pada 4 Juli lalu. selain pendataan pihaknya juga memperketat penerapan protokol kesehatan mulai dari pintu masuk semua pengunjung diwajibkan cuci tangan, dan cek suhu.

“Di dalam juga pengunjung jaga jarak dan setiap wahana permainan kami sediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer. Semua wahana permainan kami bersihkan dan semprot disinfektan secara berkala,” kata Ratri.

Namun demikian untuk jumlah pengunjung di masa adaptasi kebiasaan baru ini diakui Ratri belum sebanyak pada saat kondisi normal. Dalam kondisi normal pengunjung Kids Fun di angka lebih dari seribu pengunjung. Saat ini pengunjung masih dalam hitungan ratusan.

Ia menilai jumlah pengunjung belum banyak karena Kids Fun baru buka setelah tutup hampir tiga bulan. Sejauh ini dari banyaknya wahana permainan, kata dia, yang paling ramai masih di wahana Yogya Gokart. Wahana tersebut yang selama ini menjadi andalan.

Untuk jam operasiona, kata Ratri, masih seperti biasanya khusus untuk taman bermain buka mulai pukul 11.00 WIB sampai 17.00 WIB. Sementara Gokart buka mulai pukul 07.00-19.00 WIB di hari biasa dan pukul 11.00-20.00 WIB di akhir pekan.