Bukan Wisata Massal, Ini Model Pariwasata yang Bakal Booming Setelah Pandemi

nWisatawan asing melintas di lereng Gunung Merapi wilayah Kaliadem, Cangkringan, Sleman, setelah terjadi erupsi, Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
03 Juni 2020 19:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Kegiatan pariwisata merupakan salah satu kebutuhan masyarakat untuk menstimulasi kesehatan jiwa dan raga. Diyakini, pascapandemi Covid-19 pergerakan sektor pariwisata relatif lebih cepat dari sektor yang lain.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih mengatakan aktivitas pariwisata merupakan salah satu kebutuhan masyarakat untuk menstinulasi kesehatan jiwa dan raga. Bahkan, katanya, sudah ada kelompok masyarakat yang menilai wisata merupakan kebutuhan primer bagi mereka.

Perubahan nilai budaya ini, kata Ningsih tentunya juga berpengaruh pada perilaku masyarakat baik dalam perilaku sosial maupun perilaku dalam memenuhi kebutuhan tersiernya. "Begitu kuat peran budaya dalam menggeser keberadaan wisata dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Demikian juga wisata saat pasca pandemi Covid 19," kata Ningsih, Rabu (3/6/2020).

Menurutnya, dalam waktu dekat akan muncul standar baru yang menjadi perilaku orang dalam berwisata. Bentuk-bentuk aktivitas yang rentan dalam masa pandemi Covid-19, lanjutnya, cenderung masih dihindari. "Dalam demand pariwisata saya kira akan berlaku juga. Masyarakat dalam prilakunya masih cenderung menerapkan social distancing," katanya.

Dalam konteks pariwisata pada situasi pandemi seperti saat ini, kata Ningsih, demand pariwisata akan bergeser dari kecenderungan wisata massal menjadi wisata soloist, couple, atau juga wisata keluarga. "Wisatawan tetap akan memerhatikan masalah clean, health, dan safety (CHS)," katanya.

Agar tetap survive, kata Ningsih, pariwisata haruslah mengikuti perubahan selera demand dari market yang ada. Desa wisata yang pada waktu sebelum pandemi diuntungkan dengan pola mass tourism, lanjutnya, harus berinovasi untuk siap bersaing di pasar pascapandemi.

"Saya menilai pasca pandemik covid ini pasarnya sangat besar, dan yang akan bergerak akan dimulai dari pasar local dan regional," kata Ningsih.

Dispar Sleman, katanya, sudah melakukan penguatan sinergitas dengan pelaku desa wisata dan pelaku pariwisata lainnya untuk berbenah dan mempersiapkan diri menyambut perubahan ini (new normal). Antara lain kesiapan sarana prasarana yang sesuai protokol pencegahan penyebaran Covid 19. "Secara prinsip harus aman bagi wisatawan, aman bagi operator pariwisatanya, dan juga aman bagi lingkungannya," katanya.

Tidak hanya itu, penguatan PHBS pada destinasi wisata juga perlu dilakukan. Termasuk penguatan SDM pelaku wisata, serta pengemasan atraksi. "Saya yakin pascapandemi Covid-19 pergerakan sektor pariwisata relatif lebih cepat dari sektor yang lain," katanya.