Pakar UGM: Jenazah Covid-19 Tidak Harus Dibakar

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
25 Juli 2020 23:17 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pernyataan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang menyebutkan bahwa jenazah covid-19 secara teori sebaiknya dibakar mendapat tanggapan dari Epidemiolog UGM, Bayu Satria, S.Ked., MPH.

Bayu berpendapat, pernyataan tersebut sangat kontraproduktif dengan upaya untuk mengajak masyarakat untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan cegah penularan covid-19.

“Saya rasa memang sebaiknya pejabat pemerintah harus berhati hati dalam mengeluarkan pernyataan. Karena sudah sering sekali terjadi komunikasi yang buruk dari pemerintah sehingga timbul keresahan,” kata Bayu Satria dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (24/7/2020).

Menurutnya jenzah covid-19 tidak perlu dibakar karena menurut pedoman dari WHO dan badan kesehatan lainnya juga menyebutkan tidak harus dibakar. “Cukup dibungkus dengan baik sesuai protokol kesehatan dan dimakamkan sesuai protokol kesehatan maka sudah cukup sekali,” paparnya.

Ia menerangkan bahwa virus yang sebelumnya terkontaminasi pada jenazah penderita covid-19 namun saat dikuburkan akan musnah dengan sendirinya karena tidak ada sel inang yang dihinggapi. “Virusnya akan mati jika lama tidak masuk ke inang yang baru,” ujarnya.

Soal semakin banyaknya jumlah kasus positif covid semakin bertambah dari hari ke hari menurutnya dikarenakan semakin banyaknya warga masyarakat yang melanggar protokol covid. Di samping semakin banyaknya tes massal covid-19. “Saya rasa banyak yang melanggar dan diiringi agak membaik kemampuan testing negara kita, namun masih belum maksimal sehingga tetap ada kasus-kasus yang tidak terdeteksi,” jelasnya.

Lalu soal ujicoba vaksin dari china, Bayu belum mau berkomentar lebih banyak karena menurutnya laporan pengembangan hasil uji vaksin fase 1 dan 2 di China belum dirilis hasilnya. Meski ada harapan bisa digunakan karena strainnya dari COVID-19 di China yang mungkin akan mirip dengan yang ada di Indonesia. “Untuk lebih pastinya makanya dilakukan uji fase 3 terutama di Indonesia dengan harapan bisa terlihat apakah ada efek samping, dan bagaimana hasil efikasi vaksinnya di Indonesia,” katanya.

Menurutnya vaksin bukan satu-satunya solusi pencegahan penularan covid namun untuk mengatasi pandemi covid dan pemulihan ekonomi bisa berjalan seiring pemerintah selaku pengambil kebijakan perlu menerapkan protokol yg ketat dan tidak tebang pilih serta memperkuat surveilans perbatasan masing masing daerah serta memperkuat penanganan covid-19 di masing-masing daerah. ”Selama ini kita lemah di surveilans mobilitasnya karena itu banyak kasus yg berpindah tempat,” tegasnya.

Di tengah ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir, Bayu menuturkan agar setiap orang harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, dengan selalu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.”Terutama masker, orang sering tidak disiplin terutama saat makan. Memang saat makan butuh lepas masker tapi itu artinya tidak boleh bicara saat makan. Bicara hanya boleh dilakukan dengan masker dan sudah tidak ada lagi ceritanya foto2 bareng2 tanpa masker dan hal itu sering dilanggar bahkan oleh pegawai Kemenkes, Presiden, Menteri, semua orang sering lupa,” pungkasnya.*