Jogja Pass, Solusi di Era Kebiasaan Baru

Kepala Bidang Keamanan Informasi dan Persandian Kominfo DIY Sayuri Egaravanda menunjukkan cara penggunaan Jogja Pass ketika melakukan sosialisasi di Bale Raos, Rabu (29/7/2020).-Harian Jogja - Ist
29 Juli 2020 17:17 WIB Galih Eko Kurniawan Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pagi itu, Ruri, siswa sebuah sekolah menengah atas di Jogja ke Grhatama Pustaka yang ada di Jalan Janti, Banguntapan, Bantul. Kegiatan ini rutin dia lakukan paling tidak seminggu dua kali.

Hari itu, perpustakaan sudah ramai dengan dengan pengunjung. Dia pun tidak bisa masuk karena pengunjung dibatasi hanya 50 orang. Ruri harus menunggu. Biasanya Ruri harus menunggu lama. Tapi kali ini tidak. Dia bisa segera masuk begitu ada yang keluar. Ruri pun senang.

Sudah beberapa kali dia mengalami kejadian semacam ini. Memang sejak pandemi Covid-19, pengunjung dibatasi. Ini semua bisa terjadi semenjak Grhatama Pustaka menggunakan aplikasi Jogja Pass. Aplikasi yang diinisiasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY.

“Untung ada Jogja Pass sehingga saya tidak perlu menunggu lama. Begitu ada yang keluar bisa gantian masuk. Pemakaiannya juga tidak ribet,” kata gadis yang sebentar lagi lulus SMA ini, dalam rilis Dinas Komunikasi dan Informatika DIY kepada Harian Jogja, Rabu (29/7).

Sangat Membantu
Menurut Kepala Balai Pelayanan Perpustakaan, Erlina Hidayati, pembatasan pengunjung ini dilakukan sejak pandemi. Dengan Jogja Pass, maka pengunjung yang keluar dan masuk perpustakaan bisa langsung dideteksi. Begitu ada yang keluar maka bisa segera diisi mereka yang sudah menunggu.

Ke depan, perpustakaan akan memanfaatkan Jogja Pass untuk mempromosikan apa yang ada di Grhatama Pustaka. “Mudah-mudahan ini bisa memberi manfaat lebih bagi pengunjung perpustakaan,” katanya.

Hal senada diungkapkan GKR Bendara, Wakil Penghageng I Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya Kraton Jogja. Menurut putri bungsu Sri Sultan HB X ini, keberadaan Jogja Pass sangat membantu pengunjung yang datang ke Kraton atau berwisata Tamansari dan Museum Kereta.
Selain itu, Jogja Pass akan memudahkan untuk melakukan tracing. Ini bisa memberi kepercayaan dan keamanan pelaku industri pariwisata dan juga pengunjung.

Hal senada diungkapkan Sumartoyo, pengelola Bale Raos, Rabu (29/7) di sela-sela sosialisasi bersama Diskominfo. Pihaknya siap menggunakan Jogja Pass untuk memudahkan pemantauan pengunjung.
Kepala Diskominfo DIY Rony Primanto Hari menjelaskan saat ini instansinya memang sedang mengembangkan aplikasi untuk ID Digital. ID Digital ini sebagai pengganti identitas pribadi. Selain itu, ID Digital ini juga berfungsi untuk mengajak masyarakat memperhatikan kesehatannya untuk mengatasi penularan Covid-19.

2.000 Orang
Jogja Pass bisa diunduh di play store dan nanti pengguna harus mengisi data pribadi dan juga hal-hal yang terkait kesehatan. Setelah mengisi, maka akan mendapatkan QR Code yang menjadi identitas pribadi secara digital.

ID Digital ini bermanfaat ketika mengunjungi tempat-tempat layanan publik, tempat wisata, kafe, pusat perbelanjaan dan lainnya. Ini akan memudahakan tracing kalau ternyata ada yang terpapar. Selain itu, ID Digital ini bermanfaat untuk melakukan analisis. Siapa saja yang datang, rentang usia, jenis kelamin dan lainnya sehingga nantinya pengelola bisa melakukan perbaikan fasilitas.

Bahkan, Jogja Pass juga bisa untuk promosi. Misalnya, di pusat perbelanjaan ada program apa saja, diskon, produk baru atau yang lainnya. Untuk rumah makan juga bisa promo menu hari ini, diskon dan juga menu baru. Nanti ada dasboard sendiri untuk mereka. Saat ini, Jogja Pass sudah diunduh lebih dari 2.000 orang.

“Diskominfo tengah menyiapkan tim respons untuk menjaga keamanan sistem peladen. Saat ini, sistem yang digunakan sudah tersertifikasi ISO 27001. Diskominfo iap mengamankan data-data, baik warga DIY atau luar kota,” ungkap Rony.