Pasien Corona yang Akan Pulang ke Moyudan Sempat Ditolak

Ilustrasi. - Freepik
08 Agustus 2020 20:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Pandemi Covid-19 yang masih merebak di Kabupaten Sleman membuat tenaga kesehatan kesulitan menyosialisasikan penerapan protokol kesehatan secara tatap muka. Terlebih, upaya meyakinkan masyarakat supaya dapat menerima pasien asimtomatik atau orang tanpa gejala (OTG) agar bisa isolasi mandiri di rumah.

Kepala UPTD Puskesmas Moyudan, Desi Arijadi menuturkan jawatannya mencoba terus melakukan penyuluhan untuk mematuhi protokol kesehatan dengan turun langsung ke masyarakat. Namun, upaya itu terkendala karena agenda penyuluhan tidak bisa melibatkan massa banyak.

"Ada kendala sosialisasi tatap muka karena enggak bisa mengumpulkan orang banyak, kalo door to door ya masalahnya ketersediaan APD. Tapi semaksimal mungkin kami terus sosialisasikan," kata Desi ketika dihubungi Harian Jogja pada Sabtu (8/8/2020).

Masalah itu sempat membuat sejumlah warga di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, salah paham terkait kepulangan salah seorang pasien Covid-19 yang tergolong asimtomatik atau OTG untuk isolasi mandiri di rumah baru-baru ini. Belum maksimalnya sosialisasi membuat warga sempat ragu untuk menerima warga asimtomatik tersebut.

"Betul, sempat ada ketegangan. Namun, sekarang sudah bisa diterima oleh warga. Saya menghargai warga yang sudah mau menerima kepulangan pasien yang asimtomatik," ungkap Desi.

Ia menjelaskan, OTG tersebut mulanya terjangkit Covid-19 setelah terpapar dari salah seorang keluarganya yang berada di lain dusun yang juga positif Covid-19 lantaran tergolong sebagai PPAT (Pelaku Perjalanan Area Transmisi). Begitu di-tracing, ia juga dinyatakan positif, namun tidak menunjukkan gejala.

Pasien tersebut sempat diisolasi di salah satu rumah sakit di Sleman selama sepuluh hari. Lantaran masa inkubasinya sudah terlewati, sesuai aturan Pemkab Sleman, ia dipersilakan melanjutkan sisa isolasi mandiri selama empat hari di rumahnya. Pasien tersebut, kata Desi, pada Minggu (9/8/2020) besok akan mengakhiri masa isolasi mandirinya.

"Kami yakinkan warga bersama Muspika untuk bisa menerima pasien OTG isolasi di rumah. Ini kemungkinan penularan sangat kecil karena sudah melewati masa inkubasi yaitu tujuh hari pertama, lalu ditambah lagi menjadi 14 hari isolasi, jadi insyallah aman selama menjalankan protokol kesehatan," terangnya.

Edukasi semacam ini, kata Desi, perlu terus menerus disampaikan kepada warga. Pasien positif Covid-19 dengan kategori OTG menurutnya bisa menjalani isolasi mandiri di rumah selama protokol dijalankan, seperti membedakan alat makan dan perlengkapan mandi dengan keluarga lain, selalu menggunakan masker, dan jaga jarak.

Lantaran sulit melakukan edukasi secara langsung, Desi mengupayakan sosialisasi via media sosial dan aplikasi perpesanan. "Media sosial enggak efektif ternyata, karena yang baca hanya sedikit. Akhirnya cuma lewat grup kami, tapi yang akses hanya kader, padahal kader belum tentu sampaikan ke masyarakat lain. Kami juga pakai grup gugus tugas kecamatan, desa, dan dusun. Secara fungsi masih jalan terus, meskipun gugus tugas nasional dibubarkan," jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo, menuturkan jawatannya akan terus melakukan edukasi supaya warga bisa memahami dan menerima pasien asimtomatik untuk isolasi mandiri di rumah.

"Melalui pendekatan persuasif baik melalui puskesmas maupun gugus tugas kecamatan," kata dia.

Joko menambahkan menurut pedoman Covid-19 Kemenkes versi ke-5, kasus positif asimtomatis cukup isolasi mandiri di rumah. Namun, kebijakan Pemkab Sleman masih mengharuskannya isolasi di faskes selama 10 hari, kemudian ditambah 4 hari isolasi mandiri di rumah.

"Kalau asimtomatis tidak ada swab evaluasi, 10 hari sudah dianggap sembuh. Kecuali selama 10 hari isolasi itu ada gejala atau keluhan," kata dia.

Per 3 Agustus 2020 lalu, pihaknya mengarahkan pasien asimtomatis untuk dirawat di Asrama Haji Jogja. Jika kapasitas di sana penuh, maka pasien baru diarahkan ke rumah sakit intermediate.