Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA--Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia akan mengembangkan pelayanan non jiwa untuk menunjang pelayanan Kesehatan di DIY. Rumah sakit ini akan membangun gedung baru di tanah seluas 4.000 meter persegi.
Direktur RSJ Grhasia, Akhmad Akhadi, menjelaskan Gedung baru tersebut akan dibangun di atas lahan sultan ground (SG) yang terletak di sebelah selatan RSJ Grhasia. “Untuk pelayanan non jiwa, seperti penyakit dalam, bedah dan lainnya,” ujarnya, Rabu (12/8/2020).
Ia memperkirakan lahan yang akan digunakan yakni seluas 4.000-6.000 meter. Kendati demikian, pihaknya belum tahu berapa luas lahan yang akan diizinkan dipakai. Karena lahan tersebut merupakan SG, maka pengurusan administrasi berada di Panitikismo.
BACA JUGA : Siswa yang Tusuk Bu Guru karena Asmara Ternyata Pasien
Di lokasi yang akan dibangun Gedung baru tersebut, terdapat lapangan yang biasa digunakan masyarakat untuk beraktivitas terutama solat Idul Fitri atau idul Adha. Maka ia berencana mencari lahan baru di timur Grhasia untuk menggantikan fungsi lapangan tersebut.
Dalam bangunan baru tersebut, diteargetkan dapat diisi dengan 300 bed. Saat ini Grhasia sebenarnya juga telah memiliki pelayanan non jiwa, namun baru sebatas 13 bed dengan layanan penyakit dalam, anak, saraf dan fisioterapi. Dengan pengembangan nanti pelayanan ini non jiwa ini akan ditambah lagi diantaranya bedah dan kebidanan.
Berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan No. 3/2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, batas bed untuk pelayanan non jiwa sebesar 40% dari total kapasitas. Di RSJ Grhasia, saat ini ada 243 bed, sehingga untuk pelayanan non jiwa ini masih bisa dikembangkan hingga sekitar 96 bed.
Sebanyak 13 bed yang telah tersedia, saat ini difungsikan untuk penanganan pasien suspek covid-19 sejak 1 April lalu. Meski tidak bertekanan negatif, ke-13 bed itu sudah isolasi, dengan satu kamar satu bed. Adapun pasien suspek covid-19 yang ditangani adalah dengan kondisi khusus, yakni orang dengan gangguan jiwa.
BACA JUGA : Pensiunan Tentara Pelaku Penusukan Kini Dirawat di RSJ
Dari pertama dibuka hingga Senin (10/8/2020) lalu, tercatat sudah ada 44 pasien suspek yang ditangani dengan perawatan infeksius tersebut. Dari jumlah itu, empat diantaranya meninggal. “Semuanya memiliki penyakit komorbid,” ujarnya.
Penularan covid-19 pada ODGJ kata dia, bisa berasal dari kontak keluarga atau orang yang mengasuh. Pasien yang datang dengan kondisi cukup parah biasanya berasal dari ODGJ yang terlantar atau menggelandang. “Risikonya cukup tinggi untuk terpapar covid-19,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ferran Torres mencetak dua gol setelah masuk sebagai pemain pengganti saat PSG bangkit dari ketertinggalan 0-2 dan imbang 2-2 melawan Rennes.
Kenali NPD atau gangguan kepribadian narsistik, mulai dari karakteristik, faktor pemicu, hingga langkah penanganannya.
Becak listrik gratis hadir di Malioboro pada 24 Agustus 2026. Cek jadwal, rute, titik kumpul, dan cara daftar layanan Dishub DIY.
Perpanjang SIM A dan C di Sleman bisa lewat HP. Simak sembilan langkah online melalui Digital Korlantas Polri tanpa antre panjang.
Gempa NTT menyebabkan 91 orang meninggal. KPAI mengungkap dua anak meninggal di pengungsian dan meminta perlindungan khusus.