Warga Terdampak Tol Jogja-Solo Minta Penilaian Tanah Mengikuti Harga Pasar, Ini Respons BPN DIY

Ilustrasi. - Freepik
22 Agustus 2020 10:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com SLEMAN—Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY menyatakan semua bentuk penilaian akan ditentukan oleh tim appraisal. Pihak BPN hanya memberikan data saja.

Kepala Kantor Wilayah Badan Pertahanan Nasional DIY Tri Wibisono mengatakan jika penilaian akan mengikuti harga pasar. Mekanismenya nanti dilakukan oleh tim appraisal. Tim penilai ini akan menilai dan menentukan harganya,  setelah itu musyawarah dengan masyarakat.

"Semua penilaian ditentukan oleh tim appraisal. Harga pasar itu tergantung dari Juknis tim penilai. Kami hanya pelaksana dan memberikan data saja," katanya.

BACA JUGA : Rp1,9 Triliun Duit Ganti Rugi Tol Jogja Solo Siap Dikucurkan 

Dia meminta agar masyarakat menjaga tanda batas yang sudah disepakati. Mana saja yang sudah ditentukan kemudian menyiapkan data yuridisnya. BPN akan mensertifikasi tanah yang masuk jalan tol maupun tanah sisa milik warga yang tidak masuk jalan tol.

"Yang penting saat ini siapkan saja data yuridisnya. Untuk tanah sisa, silahkan diajukan ke pihak instansi, kalau disetujui akan masuk dalam proses ganti kerugian," katanya.

Sebelumnya Dukuh Kadirojo 2 Purwomartani, Kalasan, Sleman Petrus Budi Santos mengatakan setelah pemasangan patok dan pengukuran, tahapan selanjutnya akan dilakukan penilaian harga melalui tim appraisal. Budi belum mengetahui mekanisme penggantian ganti untung yang akan dilakukan tim appraisal apakah tim nanti dasar penilaian menggunakan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) atau ZNT (Zona Nilai Tanah).

BACA JUGA : Patok Jalan Tol Jogja-Solo Mulai Dipasang

"Nilai tanah kan dipengaruhi oleh beberapa hal. Selain harga pasar, nilai tanah juga dipengaruhi oleh nilai ekonomis. Kemarin nilai historis juga akan dihargai, semoga itu benar," katanya.

Namun jika dibandingkan NJOP, kata Budi, warga lebih memilih penilaian tim appraisal menggunakan ZNT. Alasannya, ZNT lebih mendekati harga pasaran yang saat ini antara Rp2 juta hingga Rp3 juta per meter. "Kalau menggunakan NJOP misalnya Rp500.000 namun faktanya sudah jauh di atas itu," ujar Budi.

Selama ini, katanya, secara umum masyarakat terdampak tidak ada yang menolak. Hanya saja, warga masih menunggu mekanisme penilaian atau nilai ganti kerugian yang akan diterima. "Untuk berkas administrasi warga terdampak sudah komplit, kalau ada yang terlewat nanti bisa dilengkapi," katanya.

Ia mengatakan dari 90 KK terdampak jalan tol di Kadirojo 2 kebanyakan hanya sawah. Sebagian kecil yang terdampak berbentuk rumah. Mereka yang rumahnya terdampak sudah memiliki rencana untuk pindah dan menempati lahan baru.

BACA JUGA : Lingga & Yoni Terdampak Pembangunan Tol Jogja - Solo

Ada yang akan menampati lahan sawah lainnya, rumah lain yang tidak terdampak jalan tol atau mencari rumah pengganti. "Di antara mereka ada dua rumah yang mungkin kami beri perhatian khusus karena bangunan rumahnya berdiri di atas lahan tanah kas desa," ujar Budi.

Menurutnya, kedua KK tersebut nantinya akan dicarikan tanah pengganti agar bisa ditempati sementara. "Saya yakin untuk rumah mereka pasti akan dihargai tetapi untuk TKD tetap milik desa. Nah rencana kedua KK tersebut akan dicarikan tanah pelungguh, agar nyaman dulu," kata Budi.