Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia, Sumbu Filosofis Diupayakan Bebas dari Kemacetan

Tugu Jogja. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
07 September 2020 18:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemda DIY kembali melanjutkan proses pengusulan sumbu filosofis Jogja sebagai warisan budaya dunia kepada UNESCO. Sejumlah persiapan dilakukan dalam aspek pembangunan, kepariwisataan dan kebencanaan.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Sumadi mengatakan pada sumbu filosofis Kota Jogja akan dilakukan penataan agar lalu lintas bisa lebih lancer atau tidak macet. Kawasan tempat parkir Abu Bakar Ali menjadi salah satu titik yang akan dilakukan penataan.

“Nanti akan ada solusinya. Konsep akan diajukan dalam waktu dekat, tahun ini,” ungkapnya Senin (7/9/2020).

BACA JUGA : DIY Akan Bentuk Lembaga Pengelola Sumbu Filosofis

Sumbu filosofis ini menjadi satu-satunya warisan budaya dunia yang diajukan Indonesia ke UNESCO. Sebelumnya, Kebun Raya Bogor juga meu diajukan, namun melihat kesiapannya, Sumbu Filosofis Jogja lebih memungkinkan.

Ia menjelaskan dalam kelanjutan proses pengusulan ini pihaknya telah mendapat sejumlah masukan dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. “Salah satunya mengubah pandangan kita ke selatan, wawasan juga dibuka ke laut,” ujarnya,

Ia menuturkan selama ini penataan yang dilakukan hanya fokus ke pertanian saja, namun kurang menjamah ke laut yang berada di sebelah selatan DIY.  Padahal, laut selatan memiliki beragam potensi, baik pariwisata maupun sumber daya alam.

Ketua Dewan Kebudayaan DIY, Djoko Dwiyanto, menuturkan aspek kebencanaan juga perlu dipersiapkan karena DIY merupakan daerah yang memiliki potensi bencana baik dari utara berupa aktivitas gunung Merapi maupun dari selatan atau laut.

BACA JUGA : Makna Sumbu Filosofi Jogja, Dari Kesucian Hati Hingga

“Harus ada mitigasi, kalau terjadi bencana bagaimana mengantisipasinya,” katanya.

Pihaknya juga masih mendiskusikan judul apa yang akan dipakai dalam aspek pariwisata. Ia mengatakan ada tiga alternatif judul dengan penekanan yang berbeda-beda. “Misalnya menekankan pada aspek kosmologis yang akan menjadi sangat filosofis,” ungkapnya.

Setiap judul ini mengandung konsekuensi masing-masing. jika dengan penekanan pada konsep kosmologis, maka sumbu filosofis tidak akan dapat dipisahkan dari Imogiri. “Hubungan erat Imogiri dengan Kraton sudah tidak mungkin dilepaskan lagi,” kata dia.