Corona di Sleman Melonjak, Pelaku Wisata Diminta Lebih Tegas

nWisatawan asing melintas di lereng Gunung Merapi wilayah Kaliadem, Cangkringan, Sleman, setelah terjadi erupsi, Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
11 September 2020 19:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Lonjakan kasus baru Covid-19 menjadi pehatian semua pihak. Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman meminta pelaku wisata di untuk lebih tegas dalam penerapan protokol kesehatan.

Kepala Dispar Sleman Sudarningsih mengingatkan agar pelaku usaha dan jasa pariwisata untuk bersikap tegas dan lugas menerapkan protokol kesehatan. Meskipun uji coba operasional terbatas diizinkan, namun pengelola destinasi wisata harus konsisten menerapkan protokol kesehatan.

"Kami sudah bersepakat, Dispar se-DIY, pengelola destinasi wisata harus tegas dalam menerima wisatawan. Kalau tidak mau menerapkan protokol kesehatan, tidak pakai masker, mending ditolak. Sebab ada surat pernyataan pengelola wisata yang bertanggungjawab jika terjadi kasus Covid-19," katanya kepada wartawan, Jumat (11/9/2020).

Menurutnya, sikap tegas tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya penularan virus Covid-19. Apalagi di Sleman, katanya, kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan bahkan yang tertinggi di DIY. "Beberapa usaha wisata juga sudah menolak yang tidak pakai masker. Tidak boleh masuk. Daripada SDM nya terpapar Covid-19, sikap tegas itu harus dilakukan," katanya.

BACA JUGA: Kalasan Masuk Zona Merah Covid-19 di Sleman

Terkait antisipasi kebijakan PSBB di Jakarta, Ningsih mengatakan jika Dispar sudah mengingatkan agar pelaku usaha dan jasa wisata tetap berhati-hati. Hanya saja di lapangan, kata Ningsih, pengelola kesulitan jika harus melakukan pemeriksaan surat bebas Covid-19 bagi wisatawan yang datang.

"Sebagai antisipasi, maka setiap tamu yang datang harus menerapkan protokol kesehatan, wajib pakai masker, dicek suhu tubuhnya. Ini antisipasi yang dilakukan," katanya.

Pemkab, lanjut Ningsih, sampai saat ini belum berani menerima tamu dari zona oranye apalagi zona merah. Pemkab lebih memilih menggunakan aplikasi zoom meeting untuk melayani permintaan pertemuan dengan tamu-tamu dari zona merah. "Ya ini demi kebaikan bersama," katanya.